Buntut DWP, GPI Jakarta Raya Sebut Ismaya Group Rusak Anak Bangsa

Buntut DWP, GPI Jakarta Raya Sebut Ismaya Group Rusak Anak Bangsa
Brigade GPI menggelar aksi di kantor Ismaya Group yang ada di Gandaria City Tower 8 Jakarta Selatan, Minggu (15/12/2019) malam.

HARIANNKRI.COM – Laskar Brigade Gerakan Pemuda Islam (GPI) Jakarta Raya mendatangi kantor penyelenggara Djakarta Warehouse Project (DWP), Ismaya Group di Gandaria City tower 8 Jakarta Selatan.

Mereka meminta agar tahun depan tidak ada lagi acara DWP di Indonesia, terutama di Jakarta, karena dianggap sebagai konser maksiat.

Dalam aksi yang digelar Minggu (15/12/2019) sekitar pukul 19.00 WIB tersebut, sempat terjadi ketegangan antara Laskar Brigade GPI Jakarta Raya dengan pihak keamanan Gandaria City.

610X200 HUT Kapuas

Pihak keamanan Gandaria City menganggap aksi yang dilakukan oleh Brigade GPI Jakarta Raya mengganggu aktivitas pengunjung Gandaria City Mall, pejalan kaki dan membuat kemacetan lalu lintas. Ketegangan mereda setelah kedua pihak sepakat untuk saling menjaga ketertiban.

“Kami dari Gerakan Pemuda Islam Jakarta Raya untuk kesekian kalinya mengutuk diselenggarakannya DWP 2019 di JIExpo. Itu adalah konser maksiat. Karena terjadi seks bebas, pesta narkoba dan pesta miras disana,” kata Ketua GPI Jakarta Raya Rahmat Himran.

700 Covid Hariannkri

Dalam aksi tersebut, Rahmat Himran meminta agar Ismaya Group tidak menyelenggarakan DWP lagi di tahun mendatang. Ia menegaskan bahwa acara DWP atau sejenisnya, merusak moral anak bangsa. DWP dianggap tidak mencerminkan budaya ketimuran yang justru menolak seks bebas, narkoba dan mabuk-mabukan.

Baca Juga :  Ketua Komisi I DPRD Raja Ampat Fahmi Macap Serap Aspirasi Kampung Usaha Jaya
“Kami meminta Ismaya Group tidak lagi mengadakan DWP di tahun depan. Bahkan sampai kapapun. Karena konser maksiat tersebut sangat merusak moral anak bangsa. Bangsa Indonesia kental dengan budaya ketimuran dan tidak mengenal seks bebas, narkoba dan mabuk-mabukan. Tahun 2020 jangan ada lagi izin untuk penyelenggaraan konser maksiat seperti DWP,” tegas Rahmat Himran.

Pada aksi tersebut, GPI juga menyatakan kekecewaannya kepada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang dirasa pro kegiatan maksiat. Rahmat Himran mengingatkan bahwa pada tahun 2017 Anies terpilih karena umat Islam menginginkan Jakarta yang kental nilai religi, bukan mementingkan faktor ekonomi semata.

“Anies Baswedan menjadi Gubernur karena umat menginginkan Jakarta yang berakhlak. Jangan sampai rakyat menjadi antipati karena Anies mendahulukan faktor ekonomi daripada akhlak. Membiarkan Ismaya Group mengadakan DWP telah menciderai keputusan umat memilihnya sebagai Gubernur. GPI Jakarta Raya kecewa dengan kebijakan Anies Baswedan. Gubernur pilihan umat tapi pro maksiat,” ujar Rahmat Himran. (OSY)

Baca Juga :  Novel Baswedan Jaksa Agung? Sebuah Opini Tony Rosyid
700 Covid Hariannkri
Loading...