Menulis Untuk Membela, Kenapa Tidak?

Menulis Untuk Membela, Kenapa Tidak?
Ilustrasi

Menulis Untuk Membela, Kenapa Tidak? Ditulis oleh : Ahmad Khozinudin SH, Advokat, Sastrawan Politik.

Pada hakekatnya, seorang advokat pastilah penulis. Mengingat, produk advokat baik gugatan, jawaban, replik, duplik, kesimpulan, atau pledoi dalam perkara pidana, semua itu dibuat dalam format tulisan. Bahkan, dalam kasus perdata nyaris hampir keseluruhan proses gugat menggugat itu disampaikan tertulis dan dianggap telah dibacakan.

Karena itu, semestinya mudah bagi seorang advokat untuk menulis. Sama mudahnya, seorang Dosen untuk menulis karena sejumlah karya ilmiah akademik itu formatnya tulisan bukan omongan. Begitu pula para peneliti, pastinya juga penulis.

Hanya saja menulis artikel lepas, beropini dan bernarasi melalui tulisan pada faktanya tak semudah membuat gugatan atau risalah pembelaan. Itu yang menyebabkan, tidak semua advokat bisa menulis artikel hukum atau opini lepas, meskipun nyaris setiap hari keluar masuk pengadilan menghadapi atau membuat gugatan.

Baca Juga :  Pak Kabareskrim Segera Tangkap Kunyuk Jozeph Paul Zhang, Jangan Cuma Beropini Yang Menyesatkan

Menulis -apalagi dalam konteks beropini atau bernarasi- memang sebuah seni tersendiri. Biasanya, pengalaman spiritual dan personal, faktor latar belakang dan histori, interaksi dan berbagai dinamika kehidupan, sangat menentukan corak atau ‘rasa’ tulisan. Tidak sedikit, kadang pembaca hanyut dan larut dalam tulisan, seolah penulisnya sedang berada dihadapan pembaca dan mengajaknya berdiskusi.

Tidak jarang, tulisan heroik mampu membuat pembacanya bersemangat. Tulisan elegi, mampu mengajak berkontemplasi. Tulisan cinta, membuat pembacanya kembali kasmaran pada kisah-kisah yang diceritakan.

Perbedaan daya Magnis tulisan ketimbang video atau agitasi orasi, adalah bahwa pembaca akan larut dalam imajinasi tak terbatas sesuai kehendaknya. Tidak ada batasan script visual, yang menghambat pembaca sampai pada imaginasi tertingginya dalam mempersepsikan tulisan.

Misalnya saja, anak era old narasi cinta dan kasih nya lebih ‘menggila’ ketimbang anak zaman now. Anak era old, menumpahkan ekspresi pikiran dan perasaannya via tulisan. Dahulu, dikenal surat cinta dari sang kekasih.

Baca Juga :  Stok Vaksin Melimpah Tapi Daerah Teriak Kehabisan, Mulyanto: Ada Dimana Barang Itu?

Anak era Now, narasinya garing segaring video tik tok. Tak ada kontemplasi atau imaginasi atas ungkapan perasaan, karena semua telah dibatasi oleh script visualisasi.

Kembali kepada soal menulis. Bagi seorang advokat, menguasai soft skill menulis itu penting. Sebab, salah satu sarana untuk membela klien adalah dengan menulis.

Saya tidak memaksa Anda menjadi penulis. Namun, kalau tidak menulis sayang sekali. Usia Anda akan jauh lebih pendek. Dengan menulis, Anda sama saja sedang mengabadikan usia.

Selamat menulis, tuliskan sejarah masa depan melalui amal yang dilakukan saat ini. Sejatinya, kita semua sedang menulis sejarah kita masing-masing.

Loading...