Mulyanto PKS Minta Pemerintah Batasi Ekspor Nikel Mentah

Mulyanto PKS Minta Pemerintah Batasi Ekspor Nikel Mentah
Anggota Komisi VII DPR-RI dari Fraksi Partai Keadilan (PKS) Mulyanto

HARIANNKRI.ID – Anggota Komisi VII DPR RI, Mulyanto meminta pemerintah untuk membatasi ekspor nikel mentah atau setengah jadi karena  akan berpotensi menjadi komoditas unggulan. Pemerintah harus fokus menyiapkan aturan tata kelola mineral ini dari hulu hingga hilir secara maksimal.

Politisi PKS ini menjelaskan, Indonesia merupakan negara dengan cadangan bijih nikel terbesar di dunia. Sekitar 32,7% cadangan nikel dunia ada di Tanah Air. Australia berada di urutan kedua setelah Indonesia, yang memiliki 21,5% cadangan nikel dunia. Brazil menyusul dengan cadangan bijih nikel 12,4%. Kemudian Rusia, Kuba, Filipina, dan Afrika Selatan.

“Demi menjaga ketahanan cadangan mineral ini, pemerintah mengeluarkan kebijakan larangan ekspor bijih nikel dengan kadar 1,7%. Kebijakan ini mulai diberlakukan per Januari 2019,” kata Mulyanto di Jakarta, Rabu (2/12/2020).

Dijelaskan, Indonesia menduduki peringkat pertama sebagai produsen nikel terbesar dunia.  Pada tahun lalu, produksi nikel dunia mencapai 2,6 juta ton, sementara produksi nikel Indonesia mencapai sebesar 800 ribu ton. Sementara di posisi kedua dan ketiga ditempati oleh Filipina dan Rusia dengan produksi masing-masing 420 ribu ton dan 270 ribu ton.

Baca Juga :  Mulyanto PKS Minta Presiden Lantik 8 Anggota DEN Terpilih

Mulyanto memperkirakan seiring berkembangnya industri produksi baterai, nikel akan menjadi primadona dan sumber pertumbuhan ekonomi ke depan. Karena itu Pemerintah perlu memaksimalkan nilai ekonomis bahan tambang ini agar bisa meningkatkan pertumbuhan nasional yang sekarang terpuruk.

“Pemerintah perlu membatasi ekspor nikel setengah jadi. Karena produk setengah jadi ini nilai tambahnya tidak seberapa,” kata Mulyanto dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi VII DPR RI dengan BPPT, LIPI, BIG, Badan Geologi dan Balitbang Kementerian ESDM, (31/11/2020).

Mulyanto menambahkan saat ini industri baterai listrik untuk keperluan industri otomotif ramah lingkungan sedang naik daun. Nikel sebagai bahan utama produksi baterai listrik tentu menjadi kebutuhan utama penunjang industri yang akan terus berkembang tersebut. Untuk itu sebagai negara dengan cadangan nikel terbesar Indonesia harus dapat mengambil manfaat yang sebesar-besarnya dari kondisi ini.

Baca Juga :  Andi Asnaniah Jalin Keakraban Warga Dengan Bakar Ikan di Awal Tahun

“Disinilah peran penting lembaga riset dan inovasi kita serta Kementerian ESDM untuk memikirkan jalan, bukan sekedar hilirisasi “setengah hati”, dengan menghasilkan produk setengah jadi dengan nilai tambah sedikit, namun mengembangkan hilirisasi penuh memproduk barang jadi dengan nilai tambah tinggi, produk teknologi berbasis nikel,” tegas Mulyanto.

“Ke depan kita harus melarang ekspor bahan baku setengah jadi bila industri baterai dan industri hilir berbasis nikel tumbuh di negeri ini,” imbuh Wakil Ketua Fraksi PKS DPR RI, Bidang Industri dan Pembangunan ini. (RED)

Loading...