Mana Lebih Masuk Akal, Arya Daru Pangayunan Bunuh Diri Atau Dibunuh?

Mana Lebih Masuk Akal, Arya Daru Pangayunan Bunuh Diri Atau Dibunuh?
Mana Lebih Masuk Akal, Arya Daru Pangayunan Bunuh Diri Atau Dibunuh?

HARIANNKRI.ID – Misteri kematian diplomat Arya Daru Pangayunan apakah bunuh diri atau dibunuh masih belum menemukan titik terang. Meski Polda Metro dalam pernyataannya menyatakan tidak ada keterlibatan pihak lain, namun bagi keluarga, rasanya hal tersebut tidak bisa diterima dengan logika normal.

“Berdasarkan semua fakta yang ada, silahkan dipikir sendiri mana yang lebih masuk akal. Arya Daru Pangayunan meninggal karena bunuh diri atau dibunuh? Mari kita menganalisa dengan logika normal,” kata kuasa hukum keluarga Arya Daru, Nicholay Aprilindo melalui sambungan selular, Rabu (12/11/2025).

Fakta psikologis sederhana, paparnya, sebelum meninggal, kondisi kejiwaan Arya Daru sedang bahagia. Diplomat Ahli Muda Direktorat Perlindungan Warga Negara Indonesia (WNI) Kementerian Luar Negeri (Kemlu) tersebut sedang mempersiapkan diri untuk penugasan di Finlandia. Bahkan, is juga sedang mengurus kepindahan kedua anaknya agar bisa sekolah di tempat ia bertugas.

“Bagaimana orang yang promosi jabatan, mempersiapkan segala sesuatunya ke Finlandia. Masa dia meninggalkan semua hal dengan bunuh diri. Tidak masuk akal sehat, ini tidak waras,” ujar mantan Dirjen Instrumen dan Penguatan HAM Kementerian HAM ini.

Kemudian, ungkapnya, cara meninggal Arya Daru adalah hal mencolok yang sulit diterima akal sehat jika dinyatakan bunuh diri. Nicholay mengingatkan, kondisi Arya Daru ketika ditemukan meninggal terlalu rapih untuk orang bunuh diri. Ia ditemukan meninggal dalam kondisi terbungkus plastik secara rapih, kemudian kepalanya terlilit lakban yang juga terpasang sangat rapih, kemudian menutupi tubuhnya secara sempurna dengan selimut.

“Dari tata cara proses kematian, kita bisa melihat. Gak perlu ahli. Mungkin tukang becak pun bisa tahu itu. Tukang ojek pun bisa tahu. Termasuk banyak luka-luka, ada memar ada lebam, kemudian dibungkus plastik terlebih dahulu, dililit sedemikian rupa rapihnya, diselimuti. Masa orang bunuh diri dia lukain tubuhnya, dia plastikin kepalanya, dia liitin kepalanya dengan lakban, dia selimuti, baru dia mati. Apa ini bisa diterima secara logika?” ucapnya.

Hal aneh jika meninggalnya Arya Daru karena bunuh diri adalah adanya teror kepada keluarga korban sebanyak tiga kali pascakematian sang diplomat muda ini. Keluarga almarhum Arya Daru Pangayunan mendapatkan serangkaian teror setelah kematian almarhum pada 8 Juli 2025 lalu.

Teror pertama datang sehari setelah pemakaman, tepatnya pada 9 Juli 2025 silam. Seorang pria misterius datang membawa amplop coklat untuk Arya Daru yang sudah meninggal. Saat dibuka, isinya gabus berbentuk bunga kamboja, hati, dan bintang. Teror kedua terjadi pada 27 Juli 2025, saat makam Arya Daru dirusak oleh orang tak dikenal. Tanah makam berantakan, membuat keluarga merasa cemas dan terancam. Teror ketiga terjadi pada 16 September 2025, ketika istri Arya Daru bersama anaknya menemukan makam almarhum telah ditaburi bunga mawar merah yang disusun berbentuk garis lurus dari kepala hingga kaki.

“Kalau almarhum meninggal karena bunuh diri, kenapa harus ada teror sampai 3 kali? Bukan sekali atau dia kali, tapi tiga kali. Siapa yang bisa melogika hal ini lalu menyimpulkan kalau almarhum meninggal tanpa ada keterlibatan pihak lain? Logika dari mana coba,” tegas Nicholay.

Itulah mengapa, sambungnya, keluarga Arya Daru tidak berhenti mencari keadilan yang terang benderang bagi almarhum. Justru terasa janggal jika pihak keluarga bisa menerima atau merelakan status bahwa Arya Daru karena bunuh diri.

“Rasanya sulit diterima oleh logika manusia normal jika benar meninggalnya Arya Daru Pangayunan karena bunuh diri. Ayolah, mari bareng-bareng kita berpikir pakai akal waras menganalisa semua fakta yang ada. Jujurlah dari hati kita yang paling dalam. Apa masuk akal jika kematian Arya Daru karena bunuh diri? Silahkan dipikir,” tutup Nicholay Aprilindo. (OSY)

Loading...