Intelijen Mesir Dibalik Gencatan Senjata

Intelijen Mesir Dibalik Gencatan Senjata
Jenderal Abbas Kamel dan lambang Egyptian General Intelligence Directorate (EGID)

Intelijen Mesir Dibalik Gencatan Senjata. Ditulis oleh: Josef Herman Wenas, Pemerhati Politik.

Jumat 21 Mei 2021, jam 2 dini hari waktu Gaza, disepakati gencatan senjata antara Israel dan Hamas. Hari Kamis 20 Mei 2021 jam 6 sore waktu Washington DC— atau sekitar jam 1 pagi di Gaza, sudah hari Jumat— media massa Amerika Serikat menayangkan pidato singkat Presiden Joe Biden, hanya 3,5 menit, tentang gencatan senjata Israel-Hamas ini.

Perhatikan kalimat Biden: “Folks, I’ve just spoken with Prime Minister Netanyahu. Earlier today, I spoke with President Al Sisi of Egypt. Prime Minister Netanyahu informed me that Israel has agreed to a mutual, unconditional ceasefire to begin in less than two hours. The Egyptians have now informed us that Hamas and the other groups in Gaza have also agreed…”

Dan memang betul, in less than two hours dari sejak pidato Biden itu, genjatan senjata terjadi. Tetapi siapa “The Egyptians”, dalam bentuk plural, yang dimaksud Biden dalam kalimat terakhir?

Jadi ada orang Mesir lain yang terlibat, selain tentunya Presiden Abdel Fattah Al Sisi sendiri.

Badan Intelijen Mesir; Egyptian General Intelligence Directorate (EGID)

Mereka adalah orang-orang Egyptian General Intelligence Directorate (EGID). Betul, Badan Intelijen Mesir, dibawah kendali Jenderal Abbas Kamel, yang mulai beroperasi (kalau persiapannya sudah jauh lebih lama) sejak Kamis 20 Mei 2021, atau sehari sebelum genjatan senjata terjadi.

Baca Juga :  Jokowi Masih Harus Bertanggung Jawab Atas Kejahatan Kemanusiaan 21-22

Ada dua delegasi. Yang satu langsung masuk ke Jalur Gaza ketemu Ismail Haniyeh, sedangkan yang lainnya ke Tel Aviv, ke Mabes IDF di kawasan HaKirya. Delegasi yang ke Jalur Gaza masuk melalui Rafah Checkpoint di perbatasan Mesir-Gaza.

Hamas lebih gampang diyakinkan, langsung setuju besok Jumat jam 2 pagi mulai gencatan senjata. Israel justru yang lebih sulit.

Dari sumber Perancis ada informasi begini: “In the countdown to the 2 am, ceasefire, whose timing Hamas had confirmed but Israel did not, Palestinian rocket salvoes continued and Israel carried out at least one air strike.” Artinya, sangat mungkin roket Qassam balasan ditembakan kembali.

Informasi ini cocok dengan sumber di Washington DC yang bilang, “Things still could go crosswise with hours to go before the cease-fire took effect. The president and senior aides had over 80 engagements, by phone or in person, in search of an endgame to the fighting.”

Jadi pada jam-jam sebelum Presiden Biden menyampaikan konferensi persnya pada Kamis magrib 20 Mei 2021 itu, keadaannya memang tegang. Komunikasi sangat intensif, by hourly basis.

Biden baru yakin setelah PM Netanyahu menelepon untuk keduakalinya hari itu, sudah agak sorean, dan menyampaikan “It appeared the furious fighting between Israel and Hamas was about to end.”

Baca Juga :  Virus Kecurangan di Dalam Demokrasi di Indonesia

Ini suatu “flurry of diplomacy” segitiga Kairo-Tel Aviv-Washington dibalik gencatan senjata yang melegakan dunia itu. Urutannya tidak salah, Kairo memang ada di depan.

Tetapi siapa yang akhirnya berhasil meyakinkan PM Netanyahu, sehingga menelpon Presiden Biden untuk keduakalinya?

Saya membayangkan situasinya seperti ketika Letjen. L.B. Moerdani tiba di Bangkok bersama pasukan baret merahnya, dan ternyata diplomasi kita belum berhasil memperoleh ijin untuk penyerbuan ke Woyla dari PM Prem Tinsulanonda.

Tibanya Moerdani dan pasukannya sudah malam hari, entah bagaimana cara ngomongnya dua hal bisa dilakukan olehnya: (1)meminta agar PM Prem yang sudah masuk kamar tidur dibangunkan untuk bicara; (2)dalam pembicaraan, meminta kepastian izin penyerbuan yang ditunggu-tunggu. Dan ternyata diberikan.

Jenderal Abbas Kamel bukan baru kali ini saja ke Tel Aviv. Belum dua bulan lalu dia ketemu para pejabat tinggi Israel untuk mengatur kunjungan PM Netanyahu ke Mesir (terakhir Netanyahu berkunjung ke Kairo bertemu Husni Mubarak tahun 2011). Ada agenda geopolitik tersendiri soal kunjungan kedua Netanyahu ke Mesir ini.

Sumber Rusia malah menyebutkan pertemuan Kamel dan Netanyahu di akhir Februari 2021 itu dilakukan di Beit Aghion (kediaman resmi PM), di Yerusalem. Ini kan bisa diartikan Mesir mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.

Loading...