Soeltan Abu Nasr Abdul Qohhar Maulana Mansyur bin Soeltan Ageung Tirtayasa

Soeltan Abu Nasr Abdul Qohhar Maulana Mansyur bin Soeltan Ageung Tirtayasa
Ilustrasi

Soeltan Abu Nasr Abdul Qohhar Maulana Mansyur bin Soeltan Ageung Tirtayasa; Memahami Cerita secara utuh. Ditulis oleh: Tubagus Soleh, Ketum DPP Ormas Kerabat dan Sahabat Kesultanan Banten (Babad Banten)

Cerita dari mulut ke mulut tentang Soeltan Haji Abu Nasr Abdul Qohhar Maulana mansyur bin Soeltan Ageung Tirtayasa abul Fath Abdul Fattah selalu menarik batin saya.

Pasalnya sederhana saja, banyak cerita peran antagonis Soeltan Haji yang dituturkan banyak pihak. Mulai dari Kaum Sejarawan, Cerdik Pandai, dzuriat dan kaum awam.

Ceritanya pun sangat beragam versi. Dari yang biasa, sederhana sampai pada yang diluar batas nalar. Namun Alhamdulillah semua versi cerita tentang Putera Mahkota Soeltan Haji Abu Nasr Abdul Qohhar Maulana Mansyur saya simak dengan seksama.

Saya juga menyimak informasi yang sempat heboh di jagad maya tentang manuskrip yang baru ditemukan. Dalam manuskrip tersebut menjelaskan “sosok” Syekh Mansyur Cikeduen berbeda orang dengan “sosok” Putera Mahkota Soeltan Haji Abu Nasr Abdul Qohhar Maulana Mansyur.

Namun saya tidak lagi mendengar kelanjutan tentang informasi kajian manuskrip tersebut. Sehingga saya belum bisa menyimak penjelasan yang utuh dari kajian manuskrip tersebut apa kesimpulannya.

Cerita Tentang Putera Mahkota Soeltan Haji Abu Nasr Abdul Qohhar Maulana Mansyur.

Setidaknya ada 2 versi yang menjadi arus persepsi awam:

Versi pertama. Bahwa yang melawan Kepada Soeltan Ageung Tirtayasa bukan Putera Mahkota Soeltan Haji. Tapi sosok lain yang menyerupai Soeltan Haji. Yaitu sosok jin dari pulau Majeti. Tujuan utamanya adalah meruntuhkan kewibawaan, kehormatan dan kejayaan kesultanan Banten yang saat itu dipimpin Soeltan Ageung Tirtayasa Abul Fath Abdul Fattah.

Versi kedua. Bahwa Putera Mahkota Soeltan Haji saat terjadinya huruhara di Kraton Surosowan yang dipimpin oleh Soeltan Ageung Tirtayasa beliau sedang menunaikan Ibadah Haji di Tanah Suci Mekkah. Sangat mustahil bila dalam waku bersamaan beliau ada di kraton surosowan dan membuat keonaran politik.

Kedua versi cerita itu begitu kuat berkembang di berbagai kalangan strata sosial. Dan yang bersikap pro dan kontra. Tapi ada juga yang memilih bersikap tawaquf. Tidak berkomentar apapun. Memilih diam. Semuanya sudah ada dalam kisah garis takdirnya sendiri.

Baca Juga :  Tiba-tiba Saja Ketua MPR Bambang Soesatyo Terbangun. Opini Asyari Usman

Saya sendiri memilih bersikap tawaquf sambil terus pro aktif menyimak penuturan-penuturan dari berbagai pihak.

Hingga pada suatu hari, alfaqir bertemu dengan Sang ‘Alim yang menuturkan Sosok YM Putera Mahkota Soeltan Haji Abu Nasr Abdul Qohhar Maulana Mansyur bin YM Soeltan Ageung Tirtayasa yang bisa alfaqir cerna dengan nalar.

Sang ‘Alim menuturkan bahwa YM Soeltan Haji Abu Nasr Abdul Qohhar dan “Maulana Mansyur Cikeduen” adalah orang yang sama. Dalam bahasa lain satu orang. Bukan orang yang berbeda.

Berdasarkan penuturan keluarga Sang ‘Alim yang dipegang teguh secara turun temurun. Bahwa YM Soeltan Haji Abu Nasr Abdul Qohhar tidak pernah membuat keonaran politik apalagi melawan ayahanda beliau YM Soeltan Ageung Tirtayasa.

Sebab, ketika terjadi keonaran politik di kraton Surosowan beliau tegaskan dalam cerita, YM Putera Mahkota Abu Nasr Abdul Qohhar sedang berada di Madinah untuk menuntaskan proses Ibadah Haji.

Setelah mendengar kabar telah terjadi keonaran politik yang dilakukan oleh seseorang yang mengaku-ngaku diri beliau maka beliau meminta izin untuk pulang terlebih dahulu. Menurut cerita Sang ‘Alim, Nabi Khidir Alaihissalam langsung yang mendampingi beliau pulang ke Banten melalui jalan bawah tanah dan keluar di Cikoromoy Pandeglang. Sekarang kita mengenal dengan nama Cibulakan.

Di kolam Cibulakan ada batu yang oleh warga banten dikenal dengan Batu Qur’an. Batu Qur’an tersebut diyakini yang menutup air deras yang keluar dari tempat YM Putera Mahkota Soeltan Haji Abu Nasr Abdul Qohhar Maulana Mansyur jalan tembus bumi.

Kepulangan YM Putera Mahkota Soeltan Haji Abu Nasr Abdul Qohhar Maulana Mansyur dari Madinah ke Banten dari Ibadah Haji tidak langsung kembali ke istana Surosowan. Disebabkan situasi politik Kraton yang tidak kondusif. Kehadiran YM Putera Mahkota Soeltan Haji tidak terdeteksi oleh siapapun.

Baca Juga :  PPKM Darurat Diperpanjang, Waduh...

Beliau kemudian memilih berdakwah di pinggiran kampung sambil terus memantau situasi dan kondisi sosial politik yang berkembang.

Menurut penuturan Sang ‘Alim, usaha dakwah beliau membuahkan hasil. Banyak yang masuk Islam. Banyak “Jawara Sakti” yang berhasil ditaklukan hingga menjadi pengikut setia beliau.

Sebagai Putera Mahkota Soeltan yang sedang mendapat fitnah kubro beliau memilih bersikap diam dan nrimo. Namun identitas dirinya tidak dihilangkan sama sekali. Dalam masa “uzlah” tersebut, beliau menggunakan identitas Nama Maulana Mansyur.

Beliau memakai identitas Maulana Mansyur bukan tanpa tujuan atau sekedar iseng. Tapi memiliki makna sikap penegasan Bahwa Putera Mahkota Soeltan Banten yang sebenarnya tidak melakuan keonaran politik di kraton Surosowan seperti yang saat ini terjadi. Sekaligus juga menegaskan bahwa beliau sudah kembali dari Mekkah. Serta saat ini sedang berjuang untuk menolong dirinya sendiri dari fitnah keji “Makhluk Majeti” yang menyerupai beliau dengan cara berdakwah ke khalayak awam langsung.

Sang ‘Alim menegaskan, agar pembacaan sejarah tentang sosok YM Putera Mahkota Soeltan Haji Abu Nasr Abdul Qohhar Maulana Mansyur benar maka kita harus mampu membaca secara utuh kata Nasr dan Mansyur. Antara Isim Fail dan Isim Maf’ul. Yang bermakna orang yang menolong dan orang yang di tolong. Padahal secara maknawi menunjukan satu sosok yaitu YM Putera Mahkota Soeltan Haji Abu Nasr Abdul Qohhar Maulana Mansyur. Yang memiliki sifat dan sikap menolong kepada sesama dan berjuang keras agar bisa menolong dirinya sendiri dari fitnah keji “sosok makhluk Majeti” yang membikin keonaran politik, sosial, budaya, ‘agama’ dan ekonomi yang kelak di kemudian hari sangat mempengaruhi kekuatan kesultanan Banten secara keseluruhan.

Saya sendiri sangat menikmati sajian sejarah dari sang Alim yang sangat mencerahkan.

Sebab saya memiliki pandangan, tidak mungkin Sosok Soeltan dimakamkan di luar dari kawasan area kesultanan. Pastinya beliau dimakamkan di kawasan Kesultanan Banten.

Loading...