Residence Evils. Opini Malika Dwi Ana

Residence Evils. Opini Malika Dwi Ana
Pengamat Sosial Politik Malika Dwi Ana

Residence Evils. Ditulis oleh: Malika Dwi AnaPengamat Sosial Politik.

Berbeda dengan arus mainstream itu tidaklah mudah. Karena perbedaan itu akan terlihat mencolok. Ibarat dalam satu keranjang semua bola berwarna merah, lalu ada satu bola berwarna hijau, pasti terlihat sangat mencolok dan mudah ditemukan. Padahal dunia ini indah jika banyak hal yang berbeda, dengan warna-warni berbeda. Bayangkan jika di dunia ini isinya es semua, atau gurun semua, atau laut semua…atau bayangkan jika di dunia ini hanya ada satu jenis tumbuhan, atau hanya ada satu jenis hewan, dan hanya ada satu jenis kelamin. Perbedaan itu sunnatullah, dan perbedaan adalah rahmat, kitapun menganut falsafah Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi tetap satu jua; satu bahasa, satu bangsa, satu tanah air Indonesia.

Realitas belakangan yang terjadi disini, begitu punya pikiran berbeda ya dijadikan musuh bersama, bahkan diberangus itu jika prinsip bernegara menggunakan mental zombie. Sampai disini saya ngeri sangat, apalagi mengingat film Residence Evils, dimana masyarakat kebanyakan sudah menjadi zombie, kena virus aneh yang menjadikan manusia menjadi kanibal, haus darah dan pemakan sesama. Zombie hanya patuh sama satu perintah dan hanya tersisa beberapa yang bukan zombie. Yang tersisa, karena berbeda dikeroyok kerumunan yang sudah mrnjadi zombie; dicakar, digigit dan dimakan hidup-hidup sampai mati. Asli saya benci pikiran saya…

Film-film Hollywood sepertinya banyak yang akhirnya kejadian. Pikiran-pikiran liar pembuat film itu sepertinya mewujud nyata akhirnya.

Ambil contoh soal penangkapan dokter Louis Owien. Menangkap dokter Louis, saya pikir itu berlebihan. Mosok ya beda pendapat saja diberangus polisi. Jika dia ngomong di podcast, ya balas pake podcast dong. Ngomong di talk show Hotman Paris, ya bales dengan talk show. Patahkan argumentasinya kalau memang itu dianggap salah dan menyesatkan. Argumen dibalas argumen, opini dibalas opini, itu baru terpuji dalam iklim berdemokrasi. Masyarakat toh sudah pinter, sudah pada pegang gadget, sudah ekspert searching, YouTube-an dan banyak forum pegiat anti hoax. Buktikan itu! Masak ngomong di podcast dibalas pake moncong bedil. Katanya pemuja demokrasi. Demokrasi mbiahmu po?!

Baca Juga :  Negara Demokrasi, Sebuah Opini Malika Dwia Ana

Dari awal dijelaskan, penyebab banyak kasus kematian saat pandemi itu karena dipicu oleh penyakit bawaan alias karena punya komorbid, misal jantung, diabetes, asthma, asam lambung dan seterusnya, lalu kena Cofid jadi semakin parah. Dokter Louis menyakini, secara keilmuan, bahwa kasus kematian yang ada diakibatkan oleh karena kebanyakan diberi obat atau beliau menyebut sebagai interaksi antar obat.

Disebut interaksi antar obat karena pasien ditangani oleh berbagai dokter spesialis yang memberi obat-obatan berbeda sesuai spesialisasinya. Tapi tidak mensinergikan obat yang harus diminum atau dimasukkan. Ya OD (over dosis) akhirnya… Sampai disini masuk akal sih menurut saya.

Yang membuat dokter Louis didukung publik adalah kesederhanaan dalam melogika fakta-fakta pemeriksaan di rumah sakit yang ia sebut sebagai aib dunia kedokteran. Analogi droplet itu sangat mengena. Dia menyampaikan juga bahwa banyaknya orang sakit akibat alergi dan keracunan chemtrail, alias semprotan pestisida yang belakangan marak terlihat di udara. Entah untuk tujuan apa. Keracunan tersebut dicirikan dengan ciri-ciri yang medis sebut sebagai Cofid. Tapi mereka yang cognitive dissonance, tentu saja denial. Dibutakan oleh saintisme semu. Cognitive dissonance adalah sebuah teori dalam psikologi sosial yang membahas mengenai perasaan ketidaknyamanan seseorang akibat sikap, pemikiran, dan perilaku yang saling bertentangan dan memotivasi seseorang untuk mengambil langkah demi mengurangi ketidaknyamanan tersebut. Atau kondisi perang batin saat seseorang dihadapkan dengan dua keyakinan yang berbeda. Dan langkahnya kemudian denial, penolakan…

Lalu yang dibantah dokter Tirta adalah justru masalah administratif; misalnya bukan anggota IDI, tidak punya surat ijin praktek, dan seterusnya. Alih-alih bukan membantah pendapat keilmuannya. Tapi terus laporan ke Polda. Dalam ilmu hukum disebut ad hominem, yang dibunuh karakter dokter Louis.

Baca Juga :  Antara Kemanusiaan dengan Hukum, Mana Harus Didahulukan?

Jika dianalogikan dengan anak kecil yang berantem, alih-alih bisa melawan anak yang mencubitnya, lalu nangis laporan ke bapaknya. Dan bapaknya datang menangkap anak yang mencubitnya. Betapa cengengnya..

Ini tidak ada hubungannya dengan berempati atau tidak berempati dengan para korban C19 lho ya. Sama sekali gak ada hubungannya. Ini tentang ketika kamu bersuara berbeda dengan suara mainstream, lalu kamu direpresi dengan ancaman senjata dan penjara.

Jika kalian lalu rame-rame bully yang berbeda dari kalian, apa namanya? Sama seperti mentalitas kerumunan zombie di film Residence Evils. Ternyata watak kekuasaan di negara ini ngga pernah benar-benar berubah.

Kekuasaan berwatak anti kritik, menindas dan otoriter. Begitupun sikap kita, jika ada kesempatan menindas ya ikutan menindas dengan senang hati, selain juga seneng ditindas, seneng dijajah, dan seneng anut grubyug; jika kebanyakan orang membenci maka ikutan membenci, jika kebanyakan memuja ya ikutan memuja, jika kebanyakan gila ya ikutan gila, karena kalo gak gitu gak kebagian…

Kebebasan berpendapat disini sepertinya hanya bergantung pada kemurahhatian penguasa. Kita pernah punya Orde Baru dan kita segera (atau mungkin telah) memasuki Orde Baru jilid 2 karena pada dasarnya kita sebagai rakyat merelakan hal itu terjadi. Terbiasa dijajah, biasa diplokotho, jadi ya seneng ajah seperti ini.

Jangankan dokter Louis, orang kayak saya yang sok-sokan teriak soal kebebasan berpendapat kalo diancam pakek bedil atau penjara ya pasti kicep, tiarap! Saya sungguh-sungguh takut… Tapi ibarat semut kalau pun diinjak ya pasti mati, tapi setidaknya sempat menggigit meski gigitan itu tak akan punya efek mematikan, hanya gatal-gatal.

Loading...