Interpelasi, Siapa yang Takut? Dan Kenapa Takut?

Interpelasi, Siapa yang Takut? Dan Kenapa Takut?
Ilustrasi opini Andre Vincent Wenas: Interpelasi, Siapa yang Takut? Dan Kenapa Takut?

Interpelasi, Siapa yang Takut? Dan Kenapa Takut? Ditulis oleh: Andre Vincent Wenas, Pemerhati Ekonomi Politik.

Oke, pertanyaan pertama dulu ya. Siapa yang takut dengan interpelasi?

Apakah Gubernur Anies Baswedan? Atau ketujuh fraksi itu? Gerindra, Golkar, Nasdem, Demokrat, PAN, PKS, PKB-PPP. Atau keduanya? Ya Anies ya ketujuh fraksi itu, sama-sama takut.

Kenapa Anies mesti takut dengan interpelasi? Apakah ada yang ia tidak mampu menjelaskannya, atau dibuat tidak mampu (oleh sekelompok mafia misalnya) untuk menjelaskannya.

Lalu, kenapa ketujuh fraksi itu juga takut dengan interpelasi? Apakah ada yang mesti ditutup-tutupi jangan sampai terbongkar dalam sesi tanya jawab formal nanti?

Kemarin (Kamis, 23 Sept 2021) saya berdialog (berdebat?) dengan kader Gerindra di TV One, disiarkan secara live. Pak Syarif namanya. Ia bilang bahwa mereka menolak interpelasi lantaran framing dari PSI adalah untuk membatalkan Formula E. Dan karena itu mereka rupanya tidak setuju. Begitu menurutnya.

Hmm… aneh juga. Membatalkan Formula E itu adalah konsekuensi dari: Studi Kelayakan (apakah hasil studi menunjukan layak atau tidaknya perhelatan ini dilakukan) yang mesti dibikin oleh eksekutif, dan dari kesepakatan pihak Eksekutif dan Legislatif setelah melewati proses interpelasi (tanya jawab formal). Mana bisa PSI sendiri membatalkan?

Baca Juga :  Genderuwo, Asu dan Sontoloyo (Bahasa dan Politik)

Interpelasi dan “Framing” Membatalkan Formula E

Kalau takut dengan apa yang ia katakan sebagai “framing” untuk membatalkan Formula E, ya tinggal berdebat dan ajukan argumentasi-argumentasi yang masuk akal saja dalam forum formal-terbuka di sesi interpelasi itu. Bukankah begitu selayaknya? Masak sih sudah gentar duluan dengan apa yang menurutnya adalah “framing”, itu khan cuma gambaran bayang-bayang saja dalam suatu komunikasi politik?

Kalau Gubernur Anies begitu yakin bahwa perhelatan ini amat sangat penting dan genting penyelenggaraannya bagi kepentingan rakyat Jakarta, serta bisa menjelaskan rasionalisasinya secara terbuka, tentu tidak ada masalah untuk tidak membatalkannya. Bisa lanjut terus.

Tapi kalau tidak bisa atau tidak mampu, atau tidak mau menjelaskan secara formal dan terbuka (jujur dan transparan kata Giring Ganesha), ya simple saja toh kesimpulannya? Batalkan dan balikin duitnya! Gitu aja kok repot.

Baca Juga :  Sudah Bosan Ya Dengan Wacana Pemanggilan Anies Oleh KPK?

Balikin duitnya? Iya, apa ada masalah? Kedip…kedip…

Antara Interpelasi, Eksekutif dan Legislatif

Yah memang, yang paling aneh memang kalau legislatifnya itu sendiri yang alergi dengan interpelasi. Dan malah balik badan bertindak sebagai jubir dan ajudannya eksekutif. Bahkan, ini yang lebih parah, malah jadi herdernya (anjing penjaga) pihak eksekutif. Ini khan lucu bin norax-to-the-max!

Seyogianya legilatif punya kedudukan politik yang setara dengan eksekutif dan berfungsi untuk mengawasi jalannya roda pemerintahan (eksekutif) agar tetap on-track.

Ini malah bukannya mengawasi jalannya roda pemerintahan (fungsi control), tapi malah bertandang malam-malam untuk diberi makan oleh Gubernur Anies.

Lalu setelah perut kenyang, laksana paduan suara, mereka bersama-sama seakan menyanyikan lagu dangdut: Ada Uang Abang Disayang, Tak Ada Uang Abang ditendang!

Sebuah lagu bernada manja sekaligus juga bernada ancaman.

Acara makan malam-malam itu pun ditutup dengan seremoni berfoto bersama, dengan hiasan senyum semu sambil mesem-mesem.

Adakah guratan kelicikan di wajah mereka? Yang sayangnya tertutup oleh masker.

Loading...