Merdeka Kata Mereka Lalu Apa Kata Rakyat?
Karya: Dr. Nicholay Aprilindo, Aktivis Hukum & HAM
Delapan puluh tahun kita merdeka,
katanya, dengan gegap gempita,
tapi coba tanya ke petani yang sawahnya digusur
demi jalan hotmix yang dilewati mobil plat hitam ber-voorijder.
Katanya bebas berpendapat,
asal tak terlalu keras,
tak terlalu lantang,
dan tak terlalu menyentuh ‘yang atas’.
Katanya pendidikan untuk semua,
tapi anak di pelosok masih menyeberangi sungai pakai tali,
sementara anak pejabat belajar coding di luar negeri
dari pajak yang sama-sama kita bayar tiap hari.
Katanya kesehatan hak rakyat,
tapi rumah sakit tetap bertanya: “BPJS atau tunai?”
Seolah nyawa punya kasta,
dan napas bisa dicicil dengan bunga.
Katanya rakyat adalah pemegang kedaulatan,
tapi suara kita hanya penting saat pemilu,
setelah itu?
Kita kembali jadi statistik kemiskinan dan janji palsu.
Katanya, ini negeri bukan monarki.
tapi anak dinasti bisa langsung magang jadi wakil presiden,
sementara sarjana cumlaude masih antre
jadi admin di minimarket.
Katanya kita cinta produk dalam negeri,
tapi tiap proyek diserbu barang impor,
petani disuruh menanam,
sementara kedelai dan garam masuk lewat dermaga mewah.
Katanya, merdeka itu hak semua warga.
Tapi nyatanya,
yang punya koneksi kebal hukum,
yang dekat kekuasaan bisa nyunting pasal seenaknya,
oligarki bebas beli seluruh isi perut ibu pertiwi
Kalau ini yang disebut kemerdekaan,
maka yang kita rayakan saban tahun
bukanlah kemerdekaan,
melainkan mimpi yang belum tuntas,
dibungkus panjat pinang,
disajikan dalam lomba makan kerupuk,
lalu diunggah ke media sosial
dengan tagar nasionalisme.
Sementara kita bersorak, lupa bahwa
nyatanya…
belum semua orang benar-benar pulang ke tanah air yang memerdekakannya.*







