Kalau Ingin Menang Pemilu, Curanglah, Sebuah Opini Tony Rosyid

Kalau Ingin Menang Pemilu, Curanglah, Sebuah Opini Tony Rosyid

Kalau Ingin Menang Pemilu, Curanglah

Tony Rosyid
Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Judul di atas seperti sebuah petuah. Petuah dari orang yang tak memiliki sportifitas. Diberikan kepada orang yang juga tak memiliki sportifitas. Sama-sama tak sportif. Apakah mereka tak punya Tuhan? Tanya netizen. Mungkin punya. Hanya saja tak takut Tuhan. Mereka hanya takut kehilangan jabatan

Bayangkan seandainya orang-orang macam ini ada di istana, ada di institusi hukum, ada di lembaga pemilu, ada di birokrasi, ada di kabinet, ada di DPR, pasti sendi-sendi kehidupan bernegara akan berantakan. Semoga orang-orang seperti ini gak ada di masjid, gereja dan wihara anda. Bisa-bisa rumah ibadah anda dijual sama mereka.

Kalau kecurangan itu ada di lembaga survei? Rusak demokrasi kita. Gak hanya demokrasi, dunia keilmuan juga ikut rusak. Ini jauh lebih bahaya. Kalau intelektual juga curang dengan ilmunya, apalagi yang tersisa di negeri ini?

Curang itu tak bermoral. Betul! Bicara moral tentu kita menginginkan pemilu yang jurdil, alias jujur dan adil. Pertanyaannya: emang ada pemilu yang jurdil? Hampir tak ada pemilu tanpa kecurangan. Apakah itu pilkada, pilpres maupun pileg. Hanya saja, tingkat dan level kecurangannya berbeda. Ada yang kecil, sembunyi-sembunyi agar tak ketahuan. Berarti masih punya rasa malu. Ada juga yang masif dan terang-terangan. Bahkan ada yang berani bilang: kami memang curang. Kalau kami curang, lu mau apa? Ke Bawaslu? Atau ke Mahkamah Konstitusi (MK)? Silahkan saja. Kami akan hadapi, dan anda pasti kalah!

Malah ada yang kasih pembekalan bahwa kecurangan adalah bagian dari demokrasi. Itulah yang kemarin terungkap oleh saksi di persidangan MK. Hairul Anas Suaidi, mantan caleg PBB yang pernah ikut pembekalan dari tim 01. Dialah yang membuat kesaksian itu. Nekat bener ini orang. Ngeri! Boleh juga nyali anak muda yang konon katanya dari Madura ini.

MK adalah lembaga yang biasanya bertugas menghitung dan membandingkan jumlah suara. Karena tugas ini banyak orang kemudian suka bikin plesetan bahwa MK adalah Mahkamah Kalkulator. Itu keliru, jangan diteruskan!

Jika ada kecurangan, MK akan melihat berkasnya. Lalu dihitung, apakah angka yang dicurangi itu signifikan? Maksudnya bisa merubah selisih kemenangan? Jika tidak, wassalam. Jika iya, penggugat harus menghadirkan saksi yang cukup dan tidak punya rasa takut. Saksi takut, wassalam juga. Jika kalkulasi bukti dan saksi cukup, pemilu ulang. Hanya di TPS yang terjadi kecurangan. Kapan diskualifikasinya? Tanya para peserta aksi.

Emang MK bisa mendiskualifikasi paslon yang curang? Yusril Ihza Mahendra, Rafli Harun dan Mahfud MD bilang bisa. Jika kecurangan bisa dibuktikan, MK bisa mendiskualifikasi paslon. Bagaimana bila paslon yang dibela oleh Yusril itu yang didiskualifikasi? Ah, pertanyaannya ada ada aja. Emang berani? Ini pertanyaan, bukan pernyataan. Catat!

Kalau seandainya gak berani, bagaimana kasus pilpres 2019? Kok berandai-andai. Ok. Katakanlah seandainya “asumsi” anda benar. Kan anda punya Tuhan. Ya tawakkal. Barangkali ada mukjizat. Kok tawakkal? Emang anda dan semua teman anda punya kekuatan apa? Kalau biasa-biasa saja, tak akan merubah nasib. Maksudnya? Nanya mulu! Mikir dikit ngapa.

Kembali ke judul. Bahwa judul di atas hanya ingin menggambarkan realitas dalam pemilu di negeri ini. Ada calon yang curang tapi bisa menang. Calon apa saja. Mereka diuntungkan oleh sistem yang tak cukup ruang bagi para penggugat. Apalagi jika yang curang adalah orang yang punya kekuasaan. Nasib!

Tulisan ini tidak mengajak anda untuk curang. Tapi sebaliknya, jika anda ingin terjun di dunia politik, terutama saat pileg, pilkada atau pilpres, mesti siap menghadapi Kecurangan. Kenali potensi kecurangan lawan, awasi dan lawan. Gunakan strategi yang tepat untuk melawan kecurangan. Apalagi jika lawan anda sudah menjadikan kecurangan sebagai bagian dari demokrasi. Ini berat kawan.

Jangan sampai selesai pemilu baru anda mengeluh adanya kecurangan. Berarti anda tak siap bertanding. Terutama jika bertemu dengan orang yang demokrasinya adalah demokrasi kecurangan.

Siap ikut dan menang pemilu, siap hadapi kecurangan. Gak siap, jangan ikut pemilu. Kan ada KPU dan Bawaslu? Ada MK juga? Jika anda serahkan masalah anda kepada lembaga-lembaga itu, besar kemungkinan anda akan kecewa. Bukan karena mereka tak baik. Bukan! Mereka baik. Meskipun ada saja anggotanya yang tak baik. Namanya juga manusia. Sebut saja oknum, supaya anda tidak dipersoalkan.

Banyak yang harus diurus oleh KPU, Bawaslu dan MK. Bukan hanya anda saja yang harus diurus. Yang lain juga minta diurus. Belum lagi urusan pribadi mereka.

Termasuk keselamatanya? Boleh jadi. Karena mereka menghadapi banyak pihak yang sedang bertarung. Kayak tinju aja, bertarung. Malah lebih keras dan ganas dari tinju. Kalau di ring tinju, jarang orang mati. Di ring pemilu, banyak orang mati.

Ada petarung yang nerimo. Ada yang suka ngancam. Malah ada yang tukang beli suara. Bahkan, ada juga yang bawa duit banyak. Suap maksudnya? Kemarin di KPUD Karawang ramai soal ini. Namanya juga panitia pertarungan, banyak risiko. Termasuk risiko dapat duit banyak. Hehe

KPU, Bawaslu dan MK bukan tempat anda menggantungkan nasib. Sebab, para pemain curang sudah berpengalaman, bagaimana mengelabui orang-orang di lembaga pemilu itu, termasuk bagaimana bekerjasama dengan si oknum di dalam lembaga-lembaga itu.

Jadi, kalau anda turut dalam pemilu, kenali lawan anda, lihat potensi kecurangan, dan jangan lupa jalin komunikasi sebaik-baiknya dengan mereka. Agar, anda tahu dan bisa mengantisipasi jika ada oknum yang bermain curang. Siapa tahu anda juga dapat banyak bocoran.

Masih minat ikut pemilu? Jangan lupa anda harus siap hadapi kecurangan. Boleh gak ikut berbuat curang? Kalau anda mau curang juga, jangan baca tulisan ini! Karena, tulisan ini hanya untuk para petarung yang sportif.

Jakarta, 20/6/2019

Loading...