Pak Jokowi, Memimpin Itu Melayani, Bukan Menzalimi

Pak Jokowi, Memimpin Itu Melayani, Bukan Menzalimi
Presiden Jokowi

Pak Jokowi, Memimpin Itu Melayani, Bukan Menzalimi.

Ditulis oleh: Ahmad Khozinudin, Sastrawan Politik.

“Hal ini menunjukkan bahwa semangat dakwah keislaman kita adalah merangkul, bukan memukul,”

[Presiden Jokowi, dalam sambutan di Munas MUI X]

Presiden Joko Widodo mengatakan corak keislaman Indonesia identik dengan pendekatan dakwah kultural yang persuasif dan damai. Selain itu tidak menebar kebencian, dan jauh dari karakter ekstrem dan merasa benar sendiri.

Menurut Jokowi, hakikat berdakwah adalah mengajak ummat ke jalan kebaikan sesuai akhlak mulia Rasulullah SAW. Tidak memusuhi satu sama lain.

Sepertinya, manis sekali ungkapan tuan Presiden ini. Seolah, problem bangsa ini karena ada kesalahan dalam dakwah, yakni dakwah yang memukul, bukan dakwah yang merangkul.

Faktanya, yang gemar ‘memukul’ itu tuan Presiden sendiri. Faktanya, rakyat yang ingin merangkul dan bersamaan mengelola negeri diabaikan.

Baca Juga :  Penyelesaian Masalah Papua. Opini Azis Syamsuddin

HRS telah membuka ruang dialog, membuka islah, membuka rekonsiliasi. Tapi justru yang diperoleh ‘pukulan hukum’ dengan sejumlah proses pidana berdalih UU Karantina Kesehatan.

Syahganda Nainggolan, Ruslan Buton, Jumhur Hidayat, Gus Nur, itu semua tidak ada yang memukul. Paling banter mereka cuma ngomong. Tak ada satupun pejabat yang masuk penjara karena ulah mereka. Lalu apa yang mereka dapatkan? Dirangkul oleh Presiden? Tidak, mereka semua justru dipukul dengan hukum, dizalimi, ditangkap dan dipenjara.

Semestinya, Presiden bicara didepan Forum Ulama itu meminta nasehat, meminta doa, agar mampu memimpin dengan adil. Bukan ‘menggarami’ ulama, mengajari mereka berdakwah. untuk urusan dakwah, ulama lebih paham dalil ketimbang Presiden.

Begini tuan Presiden, sepertinya tuan Presiden juga perlu dinasehati. Memimpin itu melayani, bukan menzalimi.

Memimpin itu mendengar, bukan kabur saat rakyat mau menyampaikan keluh kesah. Memimpin itu menentramkan, bukan menebar teror dan ancaman, rakyat akan dilawan oleh pemimpinnya. Kalau mau marah dan melawan, marah dan lawanlah Amerika dan China. Jangan hanya bisa marah dan zalim pada rakyat sendiri.

Baca Juga :  Gallup, Jokowi, dan Sri Mulyani, Sebuah Opini Djoko Edhi Abdurrahman

Memimpin itu membahagiakan, bukan menyengsarakan. Bagaimana rakyat bahagia, jika banyak aktivis dan ulama di penjara. Utang menggunung, harga harga melambung. PHK meraja lela. Kriminalisasi terjadi kepada siapa saja yang mengkritisi pemimpinnya.

Ingatlah, masih ada peradilan akhirat. Jangan merasa hidup di dunia selamanya. Masih ada penguasa sesungguhnya, Dia-lah Allah SWT, dzat yang maha mengetahui semua kezaliman hambanya.

Pak Jokowi, memimpin itu melayani, bukan menzalimi. Segera, bebaskan Gus Nur, Bebaskan Syahganda Nainggolan, Bebaskan Ust Abu Bakar Ba’asyir, Bebaskan Habib Bahar, dan hentikan kezaliman Anda pada HRS dan Umat Islam di negeri ini.

Loading...