Kemana Peluru (issue) Terorisme Ditembakkan?

Kemana Peluru (issue) Terorisme Ditembakkan?
Pengamat Sosial Politik Malika Dwi Ana

Kemana Peluru (issue) Terorisme Ditembakkan?

Ditulis oleh: Malika Dwi Ana, Pengamat Sosial Politik.

Beberapa peristiwa terkait judul diatas adalah soal pengeboman katedral di Makassar, pengebom yang disebut sebagai teroris itupun mati sendirian bersamaan dengan meledaknya bom. Biasanya bom bunuh diri itu untuk membunuh banyak orang, kenyataannya ia hanya membunuh dirinya sendiri dan dilihat banyak orang. Peristiwa itu disusul kasus penembakan di Mabes Polri oleh seorang yang dijuluki Lone Wolf yang tak lain tak bukan adalah seorang perempuan yang sama sekali tidak jago memegang senapan, menurut pemberitaan. Perempuan itu masuk markas polisi menodongkan senjata airsoft gun kemudian ditembak mati tepat di jantungnya. Si korban yang meninggal ditembak polisi itu kemudian disebut teroris. Sebelumnya, polisi menembak 4 orang tanpa senjata dan mati ditempat, dan tindakan polisi yang melakukan itu disebut tindakan tegas dan terukur. Jadi teroris itu sebenarnya makhluk apakah?

Secara definisi, terorisme adalah perbuatan yang menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan, yang menimbulkan suasana teror atau rasa takut secara meluas, menimbulkan korban yang bersifat massal, atau menimbulkan kerusakan atau kehancuran terhadap objek-objek vital yang strategis. Segala bentuk teror itu bisa secara fisik maupun psikis. Yang cakupan ruang lingkupnya luas. Maka teroris adalah subjek pelaku yang melakukan teror.

Pasca insiden bom di Makassar dan perempuan yang bingung sendirian masuk Mabes Polisi lalu mati ditembak polisi itu mendadak media rame memberitakan berbagai penangkapan tersangka teroris di seantero Indonesia. Entah konon karena menyimpan HCL, bahan peledak, menyimpan entah buku-buku Tuntunan Sholat atau keagamaan, entah bercelana cingkrang dan jenggotan, entah ngajar ngaji, atau bercadar, pokoknya teroris itu dianggap ciri-cirinya begitu.

Sebenarnya, realitas teror itu jika diamati sering kejadian dalam keseharian masyarakat. Hanya saja karena stigma yang disematkan oleh media mainstream itu bukan teror, masyarakat tidak terlalu menyadarinya. Tidak perlu jauh-jauh mengambil contoh pengeboman, dalam kurun setahun belakangan masyarakat juga diteror oleh pandemi, berikut dampak pemiskinannya, berbagai dampak vaksin yang ngeri-ngeri sedap tiap hari terpampang di depan mata kita.

Masyarakat petani Kendeng juga mengalami teror ketakutan demi mempertahankan lahan persawahannya dari kooptasi pabrik semen, dan sedihnya tidak ada peran perlindungan dari pemerintah. Teror juga melanda masyarakat petani yang sawahnya dirampas untuk pembangunan bandara Kertajati yang ternyata difungsikan sebagai bengkel. Juga masyarakat petani yang sawahnya dirampas paksa atas nama pembangunan infrastruktur Jalan Tol. Teror juga dirasakan oleh masyarakat Aceh saat diberlakukan DOM, atas nama NKRI harga mati. Demikian juga teror atas nama NKRI harga mati juga dirasakan oleh masyarakat Papua. KKB-OPM di Papua yang membantai masyarakat sipil dan aparat seharusnya juga digolongkan sebagai teroris. Dan masih banyak contoh yang lain. Kurang lebih ada ribuan kasus perebutan tanah oleh negara. Perebutan yang pasti disertai dengan teror dan kekerasan.

Baca Juga :  Sriwedari dan Ambruknya Benteng Jokowi, Sebuah Opini Tony Rosyid

Belakangan juga berkembang narasi banyak tokoh yang pinter agama yang sepertinya memang dipakai untuk mengadu domba umat Islam. Mereka jadi kayak kompresor rusak. Dan media massive memblow-up narasi-narasi mereka, menggiring opini seolah teroris berkaitan dengan kelompok 212 dan ormas-ormas yang sudah dibubarkan. Sementara itu para Islamophobia bertepuk tangan di atas pertengkaran Umat Islam.

Perlakuan pemerintah pada ormas-ormas Islam saja sangat berbeda, sengaja dikotak-kotakkan ala Devide et Impera; yang satu didekatin dengan gelontoran banyak dana dan dikasih jabatan, sedangkan ormas-ormas yang lain dicuekin. Bahkan ada ormas yang sudah dibubarkan tapi anggota-anggotanya diuber-uber seperti penjahat kelas kakap, hingga ada kasus di Tol Japek kilometer 50. 6 orang pengawal HRS tewas didor. Organisasinya dibubarkan. Pimpinannya sudah dikandangin. Aset-asetnya dirampas. Tapi masih saja mengalami tuduhan berkaitan dengan terorisme. Yang lucu, peluru opini sesat itu juga ditembakkan pada gerakan 212.

Yang mampu untuk menanamkan kebencian secara masif dan sistematis itu ya negara dengan aparatnya; artinya ya berikut pasukan buzzer dan anjing penjaganya. Berapa juta orang Indonesia sampai sekarang masih benci pada komunisme? Hal yang sama hari ini yang diajarkan adalah membenci Islam radikal. Sembari mengkotak-kotakkan orang Islam.

Dua ratus tigapuluh juta orang di Indonesia ini saya pikir sudah memilih tempatnya masing-masing dalam interval berbeda di negara ini. Bebas, sesuai semboyan Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hanna Dharma Magrwa. Tetapi gara-gara politik, Islam lalu dikotak-kotakkan antara yang radikal versus yang toleran.

Beramai-ramai orang bikin postingan tentang pentingnya toleransi. Padahal disertasinya Mantan Kapolri saja jelas-jelas mengatakan berkembangnya paham radikal ini terkait pada kondisi sosial ekonomi yang buruk. Kemiskinan itu cenderung lebih dekat pada kekufuran. Ya Jaka sembung bawa golok lah…!

Problemnya dengan postingan tentang toleransi itu adalah perangkap pikiran yang akan langsung mendikotomi antara radikal vs toleransi. Menafikan bahwa beragama itu bukan binom atau kategorikal. Ada fluidity di sana. Dikotomi kayak gini ini jelas mainan tukang hasut, fitnah dan adu domba.

Saya jelas tidak akan berada di barisan pelaku bom atau bahkan tukang gruduk toko miras dan warung yang buka siang hari di bulan Ramadhan. Tapi saya juga tidak mau ada di barisan orang-orang yang bilang bahwa semua agama itu sama, sehingga membolehkan adzan di gereja berbarengan dengan lagu Ave Maria, atau mencampur aduk shalawat dengan lagu Malam Kudus. Keduanya sangat ekstrim bagi saya. Wong toleransi itu jelas batasnya; lakum dinukum waliyyadiin, agamaku ya agamaku, agamamu ya agamamu. Beribadahlah sesuai keyakinanmu, demikian juga biarkan aku beribadah sesuai keyakinanku dan tidak saling mengganggu. Beragama itu memang seharusnya exclusive. Jangan menjadi inclusive. Repot kita kalau agamaku harus jadi untuk semua orang. Atau agamamu untukku juga. Yang harus inclusive itu adalah kehidupan sosial. Bukan kehidupan beragama.

Baca Juga :  Diduga Tidak Profesional, KAMAH Laporkan Bawaslu Ke Bareskrim

Poinnya adalah kita ini bukan orang yang seragam, dan tidak perlu diseragamkan pula. Tetapi meski berbeda, setiap kita punya aspirasi tentang bagaimana seharusnya hidup bersama secara harmonis. Itu sudah teruji selama lebih dari 500 tahun, tidak perlu diragukan lagi. Maka jangan ajari umat Islam soal toleransi. Dalam hal bernegara toh umat Islam sudah sangat mengalah. Pertarungan politik itu mestinya tentang aspirasi bagaimana seharusnya hidup bersama secara harmonis. Bukan dengan adu domba.

Di luar permainan politik atau kepentingan pribadi, masalahnya sebenarnya sederhana. Ada teroris ya tangkap dan hukum sesuai kesalahannya. Atau misal ada orang berencana bunuh diri dengan bom, jika terbukti silakan ditangkap sebelum beraksi atau tangkap, lalu interograsi dan buru siapa saja mereka dan siapa yang mendalangi. Periksa jaringan komunikasi pelaku biar selesai dan tidak ada lagi tuduhan atau kecurigaan bahwa Islam itu teroris. Kan capek, hidup berdampingan tapi ditanamkan kecurigaan terus menerus. Wong terorisme itu seperti kejahatan yang lain tidak tumbuh di ruang kosong. Ada faktor pemicunya. Tidak serta merta hanya soal agama. Garis bawahi ini!

Lagi-lagi, pertanyaan selidiknya; segenap peristiwa kegaduhan ini, siapa penikmatnya?

Bobroknya rezim dan korupsi besar-besaran memerlukan kamuflase agar tak nampak nyata dan tak dibahas oleh banyak rakyat; Jiwasraya Rp16.8T, Asabri Rp 17T, BPJS Rp 43T, total 81,8T. Terus Bansos Rp 7T, masih ditambah dana sosial untuk buruh dan difabel. Uang Haji, Uang AsAbri, Uang Bansos, Uang BPJS, Uang Jasaraharja, dan Uang Utang, uang anggaran untuk penanganan pandemi, dan seterusnya, siapa yang menikmati? Bisa diaudit gak? Siapa yang rugi? Yang terbaru adalah distopnya kasus penyidikan BLBI Sjamsul Nursalim, kenaikan BBM, serta bisnis polisi as usual; kenaikan anggaran belanja….glodakkk!!

Semua itu butuh dikamuflase dengan kegaduhan-kegaduhan yang menyita perhatian. Dan lagi-lagi umat Islam yang diposisikan sebagai kambing hitam.

Loading...