Pelacur Intelektual. Opini Malika Dwi Ana

Pelacur Intelektual. Opini Malika Dwi Ana

Pelacur Intelektual. Catatan kecil pojok warung kopi ndeso. Oleh: Malika Dwi Ana, Pengamat Politik.

Saya sebenarnya terheran-heran dengan ulah pemerintah saat ini, kok ada rezim seperti ini di negeri yang kehidupannya berfilsafat Pancasila? Antara omongan dan tindakan hampir tidak sinkron. Se-otoritarian-otoriannya Orde Baru, atau serepresifnya Orba pun masih membuka ruang dialog, menghargai intelektualisme. Lha ini, kesannya ngawur banget, memakai managemen konflik untuk mengelola negara, sesama rakyat dipecah belah, dibenturkan. Rakyat dihadapkan dengan aparat, dihadapkan pada ormas, karepe opo? Benar-benar rezim yang panik.

Namun keheranan saya terhadap rezim ini, sedikit menemu jawaban setelah membaca renungan Mas Yudi Latif, “bahwa kemunculan Jkw di dunia politik tidak sendirian. Ia membawa arus besar anti-intelektualisme.” Benarkah? Jika mau tahu, maka lihatlah kualitas, tampilan dan kapasitas para buzzernya. Saya melihatnya kok semu-semunya seperti asal njeplak, pengen dianggap hebat, dan mau menang sendiri. Rocky Gerung menyebutnya dengan istilah seperti “IQ 200 sekolam, tempurung kepala, lingkar otak kecil,” tapi ASUdahlah, saya sendiri mau ikutan menyebut, rasanya ngga tega.

610X200 HUT Kapuas

Banyak intelektual dan tokoh di belakang Jkw, tetapi seperti raib, punah, dan menguap daya kritisnya. Tidak menghargai pikiran bahkan cenderung mengembangkan sinisme. Memuja pencitraan dan realitas semu. Intelektual ternyata jadi seperti ngga ada gunanya, toh ya berakhir pada motive ekonomis, demand and supply. Karena berada di tempat netral menjadi suatu masalah yang amat sukar buat mereka, mungkin. Saya ngga habis pikir, para cerdik pandai sepertinya tergiring arus keraguan, terhypnotis oleh pesona pencitraan. Jangankan kritis, bahkan mereka saja tidak mempercayai nilai pikirannya sendiri. Lalu cenderung menjadi stempel dan pemandu sorak kekuasaan. Lalu kudu piye jal?

700 Covid Hariannkri

Menurut Yudi Latif, “gelombang anti-intelektualisme itu sesungguhnya merupakan arus balik dari pengkhianatan intelektual.” Bisa dianggap begitu, tetapi menurut saya, bukan cuma pengkhianatan terhadap intelektual, tetapi sudah masuk kategori pelacuran intelektual. Menjual simbol-simbol akademis, ilmuwan, pemikir, untuk sedikit harta dan kekuasaan. Hembokkk…ngerii!

Baca Juga :  Demokrasi yang Tidak Demokratis, Sebuah Opini Malika Dwi Ana

Entah apa jadinya kelak negeri ini. Ini mengingatkan saya akan sebuah hadist nabi, “… apabila di suatu kaum, orang berilmunya telah punah, maka masyarakatnya akan mengangkat orang bodoh menjadi pemimpin sebagai tempat bertanya. Orang bodoh membuat fatwa tanpa ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan….” Shadaqallah…

Semoga saja persepsi ini salah. Semoga kekhawatiran saya juga salah..

Mohon aminkan doa saya ini.

700 Covid Hariannkri
Loading...