Minta Suntik Triliunan Untuk BUMN, Pemerintah Dituding Tak Punya Sense of Crisis

Minta Suntik Triliunan Untuk BUMN, Pemerintah Dituding Tak Punya Sense of Crisis
Ilustrasi

HARIANNKRI.ID – Rencana pemerintah untuk mengalokasikan anggaran triliunan rupiah untuk membantu modal BUMN dituding sebagai langkah yang tak punya Sense of Crisis (tidak peka terhadap kondisi). Pemerintah seharusnya memprioritaskan uang negara untuk kebutuhan rakyat dalam menghadapi pandemi Covid-19.

Tudingan tersebut disampaikan oleh  Wakil Ketua Fraksi PKS DPR RI, Bidang Industri dan Pembangunan Mulyanto dalam pernyataannya, Kamis (15/7/2021). Menurutnya, PKS menilai kurang tepat bila Pemerintah mengalokasikan anggaran triliunan rupiah untuk membantu modal BUMN dalam kondisi krisis seperti sekarang. Terlebih, jika kalau uangnya diambil dari cadangan Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dan Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang telah diproyeksikan untuk program-program prioritas.

“Pemerintah seperti tidak punya sense of crisis. Tidak bisa menyusun skala prioritas menanggulangi pandemi ini. Hari ini rakyat banyak yang sulit menghadapi pandemi. Mereka dipaksa diam di rumah tanpa bantuan. Pemerintah malah mau glontorkan anggaran triliunan rupiah untuk BUMN. Apa rakyat tidak marah nanti,” tegas Mulyanto.

Anggota komisi VII ini memahami status dana yang akan digelontorkan sebagai Penyertaan Modal Negara (PMN). Namun menurutnya, tetap saja kebijakan tersebut tidak pantas dilakukan di saat rakyat masih membutuhkan banyak bantuan. Hal ini, menurutnya, yang dimaksudnya sebagai tidak punya sense of crisis. Mestinya, ujar Mulyanto, berbagai sumber daya finansial negara diarahkan untuk membantu masyarakat yang tengah menderita baik secara kesehatan maupun ekonomi seperti sekarang ini.

Baca Juga :  Refleksi Hari Lahir BJ Habibie, Riset Teknologi Nasional Makin Mundur?

“Sekarang ini yang mendesak adalah anggaran untuk program bantuan langsung masyarakat yang tengah menjalankan PPKM. Insentif tenaga kesehatan, penyediaan obat dan vitamin, vaksin gratis, dukungan gas oksigen medis dan lain-lain,” tegas Mulyanto.

Doktor nuklir lulusan Tokyo Institute of Technology, Jepang tahun 1995 ini  menilai, PMN untuk menolong BUMN yang tidak terkait langsung dengan pelayanan publik sudah seharusnya ditunda. Paling tidak sampai pandemi Covid-19 ini berakhir.

“Ini kan tidak mendesak,” ujar anggota Komisi VII DPR RI ini.

Kalaupun Pemerintah terpaksa membantu modal BUMN, lanjutnya, sebaiknya bantuan itu untuk keperluan peningkatan pelayanan bagi rakyat secara langsung. Misalnya bantuan modal bagi PLN agar dapat mengembangkan jaringan listrik di wilayah Indonesia Bagian Timur.

Baca Juga :  Proses Vaksinasi Lambat, Indeks Recovery Indonesia Peringkat 110 dari 120 Negara

“Kasihan masyarakat kita di Indonesia Timur yang masih belum merdeka dari kegelapan.  Padahal negeri ini sudah merdeka sekian puluh tahun. Program peningkatan rasio elektrifikasi ini penting bagi upaya peningkatan keadilan sosial masyarakat,” ujar Mulyanto.

Erick Thohir Ajukan Anggaran 72,44 Triliun Untuk Suntik 12 perusahaan BUMN

Untuk diketahui, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengajukan persetujuan anggaran sebesar Rp 72,44 triliun kepada Komisi VI DPR RI untuk menyuntik 12 perusahaan pelat merah.

Kucuran dana tersebut menggunakan mekanisme penyertaan modal negara (PMN) yang nantinya akan menjadi bagian dari uang negara dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2022. Adapun 12 BUMN yang diajukan untuk mendapatkan PMN tersebut termasuk PT KAI sebesar Rp 4,1 triliun untuk penugasan dukungan dalam rangka menjalankan proyek kereta cepat, yang dikritik banyak pihak serta PT BPUI sebesar Rp 2 triliun berkaitan dengan restrukturisasi Jiwasraya. (OSY)

Loading...