Sekilas Taliban: Antara Bias dan Substansi

Sekilas Taliban: Antara Bias dan Substansi
Pejuang Taliban menguasai Istana Kepresidenan Afghanistan di Kabul, Afghanistan, Minggu (15/8/2021)

Sekilas Taliban: Antara Bias dan Substansi. Ditulis oleh: Malika Dwi Ana,  Pengamat Sosial Politik.

Telaah Kecil Geopolitik

Pembahasan soal Afghanistan dan Taliban di publik —usai ditariknya koalisi militer pimpinan Amerika (AS)— terlihat ramai namun sepertinya cenderung bias. Melenceng dari substansi persoalan. Mengapa? Karena diskusi publik via beberapa pengamat terjebak hanya pada bahasan residu, atau framing, bahkan mengarah pada agitasi atau propaganda, misalnya seperti — bahwa Taliban itu terkait radikalisme, islamofobia, isu terorisme dan lain-lain. Framing-framing tersebut bukanlah pencerahan, justru bisa dianggap pembodohan massal. Kenapa demikian, karena selain dicekoki masalah hilir belaka —bukan persoalan hulu— publik juga digiring pada agenda lama “Benturan Peradaban” (Clash of Civilization)-nya Samuel Huntington, bahwa usai Perang Dingin: “Musuh Barat adalah Islam (radikal)!”

Nah, catatan kecil ini mencoba meluruskan walau sedikit (terlambat) sebab framing media terlanjur menyebar. Agar publik mendapatkan balance berita sehingga mampu memahami substansi persoalan. Ada isu penyeimbang, agar lingkungan tidak terjerumus syak wasangka serta prasangka yang dilembagakan oleh beberapa entitas (kepentingan) tertentu. Mengapa? Sebab hingga tulisan ini terbit, pihak Kemenlu RI belum mengeluarkan secuil statement terkait Taliban. Masih mencermati perkembangan situasi.

Ya… Afghanistan, AS plus militer koalisi dan Taliban ialah dinamika (persoalan) geopolitik global, bukan masalah radikalisme, bukan juga soal terorisme, tidak juga islamofobia, sebagaimana isu-isu yang sengaja dihembuskan.

Maka, membaca kemenangan Taliban atas militer AS dan kawan-kawannya mutlak harus dari sisi geopolitik, bukan dari perspektif atau sisi pandang lain. Boleh saja membaca isu Taliban dari sisi lain selain geopolitik, tetapi akurasinya pasti jauh panggang dari api.

Pertanyaan selidik yang muncul, “Apa tujuan AS dan koalisi militer (Barat) menginvasi Afghanistan tahun 200 dulu?”

Jawaban jujurnya adalah geoekonomi Afghanistan yang menggiurkan. Itu pakem geopolitik. Tidak ada peperangan terjadi melainkan karena faktor geoekonomi.

Geoekonomi itu sendiri selain luas cakupannya, juga ‘bergerak’ dinamis. Abad ke-19 misalnya, geoekonomi identik dengan rempah-rempah; tetapi pada abad ke-20, tafsir geoekonomi bergeser menjadi emas, minyak dan gas bumi (migas). Entah abad 21 ke atas. Mungkin bisa rare earth, misalnya, ataupun vaksin, atau jangan-jangan geoekonomi kelak identik dengan DNA? Semuanya bisa saja terjadi.

Baca Juga :  Selamat Ber-Halal Bi Halal Indonesia, Sebuah Opini Malika Dwi Ana

Secara umum geoekonomi ialah water, food and energy security. “Jaminan pasokan atas air (bersih), pangan dan energi disebuah negara”. Itu induk Kepentingan Nasional dengan aneka tafsir disetiap negara.

Jadi, geoekonomi bisa berbentuk pangan dan rempah-rempah; atau emas dan migas; ataupun bahan tambang lain; dan ia bisa juga berupa jalur tertentu yang bernilai strategis, misalnya, terkait pipanisasi migas antarnegara, atau jalur ekonomi, alur pelayaran semacam SLOC, selat strategis — tergantung konsepsi Kepentingan Nasional masing-masing negara selaku subyek pengguna.

Sekali lagi, geoekonomi itu bergerak dinamis sesuai tuntutan zaman.

Dan dari perspektif geopolitik, elemen geoekonomi di Afghanistan yang diperebutkan oleh para adidaya — ditengarai ada tiga hal pokok, antara lain adalah:

1) emas, minyak dan gas bumi, terutama lithium. Bahkan muncul asumsi global bahwa Afghanistan dianggap “Arab Saudi”-nya lithium setelah Bolivia. Lithium adalah bahan baku industri masa depan;

2) ladang – ladang opium berkualitas terbaik di dunia; dan

3) Jalur Wakhan (Wakhan Corridor). Ini merupakan jalur strategis karena membentang tak terputus dari Afghanistan sampai ke China. Membelah antara Tajikistan di sebelah kiri dan Pakistan di sisi kanan. Wakhan merupakan penggalan Jalur Sutra yang melegenda, membentang dari perbatasan China dan Rusia, Asia Tengah, Afrika Utara hingga Maroko. Jalur yang memisahkan antara Dunia Barat dan Timur.

Itulah sepintas unsur – unsur geoekonomi Afghanistan yang tengah diperebutkan para adidaya di panggung geopolitik global.

Lantas, kenapa dulu (2001) Afghanistan diserbu oleh koalisi militer Barat pimpinan AS berbekal tuduhan isu bahwa Osama bin Laden itu pimpinan Al Qaeda bersembunyi di Afghanistan?

Dalam geopolitik, cara terbaik meraih geoekonomi ialah melalui geostrategi. Istilah lain geostrategi ialah the best way to reach the goal. Jadi urut-urutannya jelas: geopolitik – geostrategi – geoekonomi. Jangan terbalik atau dibolak-balik.

Baca Juga :  Demokrasi yang Tidak Demokratis, Sebuah Opini Malika Dwi Ana

Politik praktis itu bukanlah yang tersurat melainkan apa yang tersirat, kata Pepe Escobar, wartawan senior Asia Times, ketika superpower men-stigma bahwa ada teroris, atau terdapat pimpinan tirani, negeri tidak demokratis dan lain-lain — itu artinya di negara tersebut ada emas, minyak dan gas bumi.

Jadi, isu Al Qaeda di Afghanistan tempo doeloe hanyalah bagian (geo) strategi AS dan sekutunya. Kenapa? Karena usai isu Al Qaeda ditebar ke publik, agenda lanjutannya adalah penyerbuan militer koalisi pimpinan AS berdalih memerangi terorisme, sedang skema kolonialisnya ialah mencaplok geoekonomi.

Retorikanya sederhana: Seandainya Afghanistan cuma penghasil gaplek, apakah isu-isu hilir akan ditebar disana? Apakah akan ada isu Al Qaeda di sana; atau contoh lain, jika Irak hanya produsen susu onta, apakah bakal muncul isu senjata pemusnah massal di era Saddam?

Ketika AS mencabut kekuatan militernya dari Afghanistan, bukan berarti Paman Sam kalah berperang melawan Taliban. Permainan belum selesai. Niscaya ada (geo) strategi lain tengah dipersiapkan daripada sekedar mempertahankan opsi militer yang high cost, gaduh lagi tak kunjung usai —semenjak 2001— sedang kemenangan belum dijamin. Maka keputusan penarikan militer merupakan langkah tepat meski dengan segala konsekuensi. Namun sekali lagi, akan ada opsi lain pasca pencabutan pasukan. Kenapa? Karena bagi kaum kapitalis, elemen geoekonomi Afghanistan yang didominan unsur industri masa depan, terlalu naif jika dilewatkan.

Ya…adanya kabar bahwa 100 pasukan khusus Afghanistan lari ke Inggris, perlu menjadi catatan tersendiri bagi Taliban karena kelak dapat menjadi kendala di kemudian hari. Apakah mereka akan comeback, lalu menciptakan perang saudara (civil war)? Entahlah. Juga munculnya ISIS-K yang meledakkan Bandara di Kabul, jangan – jangan hanya false flag operation pihak asing?

Termasuk kelompok anti-Taliban pimpinan Ahmad Massoud di Lembah Panjshir, satu – satunya wilayah Afghanistan yang belum pernah tersentuh oleh siapapun baik di era pendudukan Uni Soviet maupun ketika Afghanistan dikuasai Taliban baik dulu dan sekarang.

Loading...