Dugaan Kekerasan Terhadap Jurnalis di Makam Botoputih Surabaya Coreng Marwah Kepolisian?

Dugaan Kekerasan Terhadap Jurnalis di Makam Botoputih Surabaya Coreng Marwah Kepolisian?
Screenshot video yang viral beredar di sejumlah media sosial saat sekelompok massa yang diduga sedang melakukan kekerasan terhadap jurnalis di kawasan Makam Botoputih Pegirian Surabaya, Minggu (29/5/2022)

HARIANNKRI.ID – Kehadiran beberapa aparat kepolisian saat diduga terjadi kekerasan terhadap jurnalis di Makam Botoputih Surabaya beberapa waktu lalu berpotensi mencoreng marwah kepolisian sebagai pengayom masyarakat. Pasalnya, beberapa aparat kepolisian yang ada terkesan melakukan pembiaran saat sekelompok orang yang diduga melakukan persekusi tersebut melakukan aksinya.

Hal ini dikatakan wartawan Surat Kabar Harian Memorandum, Alif Bintang. Ia menuturkan, dirinya berada di lokasi kejadian saat dugaan kekerasan terhadap jurnalis tersebut terjadi. Bintang mengaku melihat sendiri kejadian yang dilaporkan oleh wartawan beritarakyat.co.id S Ade Maulana ke Polrestabes Surabaya pada hari Minggu 29 Mei 2022 lalu.

Kepada hariannkri.id, Bintang mengaku sangat menyayangkan perlakuan sekelompok orang kepada Ade. Menurutnya, tindakan yang dilakukan sejumlah orang kepada Ade tersebut tidak manusiawi. Meski jika dugaan kekerasan terhadap jurnalis tersebut dipicu oleh keberatan atas sebuah pemberitaan.

“Semestinya bisa dilakukan dengan cara yang santun dan lebih terpuji. Tapi yang dilakukan oleh kelompok tersebut sangat keji. Mendesak seseorang untuk ikut tanpa persetujuan, diintimidasi, dicaci, hingga mencelakai. Nyatanya, saya melihat salah satu jurnalis tersebut sampai terjatuh dua kali. Akibat dorongan, tendangan, dan benturan-benturan fisik yang lain,” kata Bintang saat dihubungi hariannkri.id melalui sambungan selular, Jumat (3/6/2022).

Ia menekankan, tidak hanya Ade yang melakukan pelaporan dugaan kekerasan terhadap jurnalis yang  mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan. Ia sendiri yang saat itu tengah melakukan kegiatan jurnalistik juga merasa diperlakukan kurang baik. Bintang mengklaim, dirinya dihalang-halangi bahkan hasil foto suasana kompleks Makam Botoputih diminta untuk dihapus oleh sekelompok orang yang dilaporkan Ade.

“Saat hendak pulang, saya dipanggil oleh kelompok tersebut. Saya diminta untuk berhenti di tempat. Selanjutnya saya diinterogasi terkait kegiatan saya. Beberapa orang berujar dengan melotot. Menanyakan saya dari mana, dan sebagainya dengan marah-marah. Hasil foto kemudian dicek. Mereka melarang saya untuk mengambil gambar. Beberapa orang menyerukan untuk menghapus,” paparnya.

Baca Juga :  Komite Pedagang Pasar Gelar Tasyakuran Bedirinya 2 Perusahaan

Saat itulah, menurut Bintang, ia melihat Ade dipaksa untuk ikut masuk ke dalam markas kelompok tersebut hingga terjungkal. Sebagai seorang wartawan, ia mengaku secara reflek berusaha untuk mendokumentasikan peristiwa tersebut. Namun hal itu tidak dapat ia lakukan, karena ada beberapa orang yang melarangnya menjalankan tugas jurnalistik.

“Saya dilarang untuk mengambil gambar. Saya diancam sambil ditunjuk-tunjuk, diintimidasi untuk jangan ambil gambar peristiwa nahas itu. Kemudian saya juga diminta oleh mereka untuk masuk ke dalam markas meski sudah menolak, tetapi tetap dipaksa untuk ikut masuk,” imbuhnya.

Dugaan Kekerasan Terhadap Jurnalis di Makam Botoputih Dilakukan di Depan Polisi?

Bintang mengaku miris melihat nasib yang menimpa rekan jurnalis yang secara kebetulan juga berada di lokasi tersebut. Ia menilai, perbuatan tersebut merupakan salah satu bentuk perampasan hak asasi manusia. Terlebih, hal tersebut terjadi pada seorang wartawan.

“Terlepas dia seorang jurnalis atau bukan, siapapun tidak akan senang diperlakukan seperti itu. Siapapun tidak boleh dipersekusi sekeji itu. Yang bersangkutan bukan rampok, bukan penjahat, bukan pula pembunuh. Namun yang dilakukan kelompok tersebut sangat liar. Tidak mencerminkan manusia seutuhnya,” tegas Bintang.

Baca Juga :  KJJT Desak Penegak Hukum Terbuka Terkait Kasus Penganiayaan Wartawan Tempo

Yang lebih membuat Bintang miris, ia mengklaim, ada petugas kepolisian yang melihat langsung kejadian tersebut. Polisi yang ada terkesan hanya melihat dan tidak berbuat banyak untuk mengamankan wartawan. Yang terjadi, lanjut jurnalis Memorandum tersebut, polisi justru terkesan menuruti permintaan kelompok yang diduga melakukan kekerasan terhadap jurnalis.

“Semestinya, Pak Polisi dengan segera mengamankan jurnalis tersebut ke Polsek Simokerto (Polsek terdekat-red). Tetapi yang terjadi, polisi malah mengikuti permintaan kelompok tersebut. Yang mendesak sambil berteriak-teriak untuk membawa kami ke dalam markas mereka,” tukas Bintang.

Ia mengaku sangat menyayangkan sikap polisi yang ada di lokasi yang dinilainya setengah hati dalam menyikapi kejadian tersebut. Bahkan, ia menegaskan, saat terjadi dugaan kekerasan terhadap jurnalis pun, oknum polisi tersebut hanya menunjukkan sikap pasif. Bintang pun menyebut sikap tersebut berpotensi mencoreng marwah kepolisian.

“Saya melihat polisi tidak dapat berbuat banyak. Entah kenapa. Bahkan saat jurnalis tersebut diancam tak dapat keluar dari ruang Majelis sebelum memberikan statemen bahwa berkeadaan baik-baik saja, polisi hanya mematung. Itu jelas penyekapan. Tetapi polisi hanya mendengarkan. Sikap polisi dalam peristiwa ini mencoreng institusi Polri,” tutup Bintang. (OSY)

Loading...