Partai Mana Yang Terlalu Islam Atau Terlalu Nasionalis?

Partai Mana Yang Terlalu Islam Atau Terlalu Nasionalis?
Ilustrasi artikel berjudul "Partai Mana Yang Terlalu Islam Atau Terlalu Nasionalis?"

HARIANNKRI.ID – Survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menemukan, publik menilai kecenderungan umum partai-partai politik terlalu Islam atau terlalu nasionalis. Diungkapkan pula, menurut publik, Partai Demokrat dinilai berada di tengah.

Temuan studi dilakukan oleh ilmuwan politik, Prof. Saiful Mujani dalam program Bedah Politik. Program ini bertajuk ‘Apakah Partai sudah Mewakili Aspirasi Pemilih?’ yang disiarkan melalui kanal YouTube SMRC TV, Kamis (15/12/2022).

Survei ini dilakukan secara tatap muka pada 5-13 November 2022. Populasi survei ini adalah seluruh warga negara Indonesia yang punya hak pilih dalam pemilihan umum, yakni mereka yang sudah berusia 17 tahun atau lebih, atau sudah menikah ketika survei dilakukan. Dari populasi itu dipilih secara random (stratified multistage random sampling) 1220 responden.

Baca Juga :  Seberapa Vital Suara Anggota NU Jawa Timur Pada Pilpres?

Saiful menjelaskan, partai didefinisikan sebagai lembaga yang mewakili kepentingan pemilih. Sejauh mana dalam praktiknya, setidak-tidaknya menurut penilaian pemilih, partai mewakili kepentingan pemilih atau tidak. Salah satu dimensi yang menjadi perhatian adalah hubungan antara agama dan negara atau masalah agama dan kebangsaan.

Data survei SMRC pada November 2022 menunjukkan bahwa secara umum, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, masyarakat Indonesia menyatakan negara harus bersandar kepada kebangsaan, bukan pada agama. Pertanyaannya, apakah partai politik juga memiliki pandangan yang sama dengan pemilih?

“Survei ini menunjukkan bahwa dalam pandangan mengenai negara dan agama, PPP, PKB, PKS, dan PAN tidak mencerminkan aspirasi pemilih. Partai-partai ini dinilai terlalu Islam. Sementara pemilih lebih cenderung atau condong ke kebangsaan. Sementara partai Gerindra, Golkar, Nasdem, dan PDIP dinilai oleh pemilih terlalu nasionalis,” kata Saiful.

Lanjutnya, yang mirip dengan pemilih dalam hal ini adalah Partai Demokrat. Dalam hal hubungan antara negara dan agama, posisi pemilih dan penilaian pemilih pada Demokrat tidak memiliki perbedaan berarti.

Baca Juga :  Petitum Tim Hukum Minta Prabowo Ditetapkan Sebagai Presiden

“Posisi pemilih, pada dasarnya, adalah moderat. Dan yang mendekati itu adalah Demokrat,” ujar Saiful.

Ia menambahkan, dari sisi ini, seharusnya Partai Demokrat mendapatkan suara lebih banyak. Namun yang dipertimbangkan oleh pemilih bukan hanya soal positioning kebangsaan dan agama ini.

“Namun demikian, bahwa Demokrat, dibanding partai-partai yang lain, tidak memiliki masalah dalam hal hubungan agama dan negara ini,” tutupnya. (OSY)

Loading...