Sering Scroll Medsos di HP? Awas Kena Penyakit Brain Rot

  • Whatsapp
Sering Scroll Medsos di HP? Awas Kena Penyakit Brain Rot
Sering Scroll Medsos di HP? Awas Kena Penyakit Brain Rot

HARIANNKRI.ID – Kebiasaan scroll media sosial (medsos) terkadang hingga berjam-jam ternyata rentan terkena penyakit brain rot. Kebiasaan ini ternyata berdampak pada sulit fokus, mudah stress hingga merasa rendah diri.

Pernahkah Anda merasa seharian waktu habis begitu saja tanpa sadar? Mau mengerjakan tugas, niat buka ponsel sebentar, tapi malah berakhir berjam-jam scrolling TikTok, Instagram, atau YouTube Shorts.

Hasilnya, pekerjaan terbengkalai, konsentrasi buyar, dan badan terasa lelah padahal tidak melakukan apa-apa. Fenomena inilah yang kini populer disebut brain rot.

Apa Itu Brain Rot Atau Pembusukan Otak?

Banyak anak muda, khususnya Gen Z, mulai mengeluh sulit fokus, gampang terdistraksi, dan merasa hari-harinya kosong. “Kadang tuh suka terjadi gitu aja. Gue tau harus ngerjain kewajiban, tapi susah banget buat fokus. Tahu-tahu waktu kebuang buat hal-hal nggak penting,” ungkap seorang mahasiswa dalam wawancara.

Istilah brain rot atau pembusukan otak memang terdengar seperti lelucon internet, tapi ternyata kondisi ini benar-benar nyata. Para ahli menjelaskan, ini adalah penurunan fungsi otak dalam hal fokus, daya ingat, dan berpikir kritis akibat paparan konten digital singkat secara berlebihan.

Konten receh, meme, video absurd, hingga hiburan instan ternyata bisa jadi pemicu utama. Menurut penelitian dari Asosiasi Kesehatan Perguruan Tinggi Amerika, dari 372 responden mahasiswa ditemukan keterkaitan signifikan antara screen time dengan meningkatnya tingkat kecemasan, stres, dan depresi.

Bagaimana Otak Bisa Terjebak?

Fenomena ini tidak lepas dari cara kerja otak kita sendiri. Ada beberapa mekanisme yang membuat brain rot begitu kuat memengaruhi generasi muda:

  1. Sistem Reward (Hadiah Otak).

Otak secara alami memberi rasa senang (dopamin) saat kita berhasil melakukan hal bermanfaat, seperti olahraga atau belajar. Namun kini, dopamin bisa didapat instan hanya dengan geser layar. Akibatnya, otak jadi malas mencari “hadiah” lewat usaha, karena sudah terbiasa dengan kepuasan cepat dari scrolling.

  1. Coping Mechanism (Pelarian Instan).

Saat stres atau cemas, seharusnya otak mencari jalan sehat seperti olahraga, curhat, atau meditasi. Sayangnya, banyak orang memilih pelarian singkat lewat scrolling. Hasilnya? Masalah utama tidak selesai, justru stres bertambah karena waktu terbuang.

  1. Latihan Otak yang Tidak Seimbang.

Otak punya dua sistem: berpikir cepat (instan) dan berpikir lambat (mendalam). Konten singkat melatih sistem cepat, sementara sistem lambat makin melemah. Inilah sebabnya banyak orang kini susah membaca panjang, cepat bosan belajar, atau malas mendalami topik serius.

  1. Perbandingan Sosial di Era Digital.

Dulu, kita hanya membandingkan diri dengan teman dekat. Kini, lewat media sosial, kita membandingkan diri dengan ribuan orang yang hanya menampilkan “versi terbaiknya”. Akibatnya, banyak yang merasa hidupnya kurang, standar jadi bias, dan rasa percaya diri menurun.

Gejala Brain Rot di Sekitar Kita

Fenomena ini terlihat jelas dalam kehidupan sehari-hari:

– Nongkrong bareng tapi semua sibuk dengan HP masing-masing.

– Lagi nonton TV pun masih sambil scrolling.

– Bahkan ada yang sudah lupa tujuan awal membuka ponsel.

Ironisnya, rata-rata screen time anak muda kini mencapai 3–5 jam per hari, sebagian besar hanya untuk hiburan instan.

Apakah Brain Rot Bisa Disembuhkan?

Kabar baiknya, otak manusia memiliki kemampuan luar biasa yang disebut neuroplasticity yaitu kemampuan otak untuk beradaptasi dan membentuk ulang jalur saraf. Artinya, meskipun otak sudah “terlatih” pada kebiasaan buruk, masih ada peluang untuk memulihkannya.

Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan:

  1. Batasi screen time. Misalnya hanya membuka media sosial di jam tertentu.
  2. Latihan fokus dengan deep work. Kerja atau belajar tanpa gangguan, bisa dengan teknik pomodoro (25 menit fokus, 5 menit istirahat).
  3. Membaca buku. Melatih otak untuk berpikir mendalam.
  4. Olahraga rutin. Membantu otak memproduksi BDNF (Brain Derived Neurotrophic Factor), protein yang menjaga saraf tetap sehat.
  5. Tidur cukup. Kualitas tidur yang baik sangat berpengaruh pada daya ingat dan regulasi emosi.

Pilihan Ada di Tangan Kita

Brain rot adalah alarm bagi generasi muda. Konten instan memang menyenangkan, tapi jika dibiarkan, bisa merusak fokus, kreativitas, bahkan kesehatan mental. Otak kita fleksibel, bisa pulih lewat kebiasaan baik. Tapi kalau dibiarkan, jalur buruk juga makin kuat. Pilihan ada di tangan kita—mau merusak hidup, atau memperbaikinya. (RRA)

Pos terkait