Keuntungan Berzakat Secara Spiritual dan Material

Keuntungan Berzakat Secara Spiritual dan Material
Pimpinan Pondok Pesantren Modern Darul Madinah Wonosari Ustad Muhammad Subair

Keuntungan Berzakat Secara Spiritual dan Material, Oleh: Ustad Muhammad Subair, Pimpinan Pondok Pesantren Modern Darul Madinah Wonosari.

Kita sebagai umat Islam menyakini bahwa zakat mempunyai makna berkembang. “Kalau kita memberikan zakat kepada orang lain, maka harta kita akan berkembang baik secara spiritual dan material”.

Kalau secara spiritual sudah jelas hati kita terasa lega, nyaman, tentram, mempunyai relasi atau teman. Tetapi juga bisa secara material kita memberikan mereka daya beli, dengan adanya daya beli sehingga perekonomian mengalami progres (berkembang), dan keuntungannya meningkat.

Jangan pernah kita mempunyai persepsi, ketika kita memberikan zakat, kita tidak mendapatkan keuntungan, justru kita mendapatkan keuntungan secara spiritual dan bisa juga untung secara material.

Zakat juga juga terkadang dimaknai dengan suci, karena mengsucikan hati kita, sehingga dampaknya menghilangkan rasa dengki, iri hati. Hati kita menjadi bersih begitupun harta kita menjadi suci.

Boleh jadi saat kita mengusahakannya ada hal-hal kecil yang remeh temeh yang dapat mengotori harta itu, maka dengan berzakat dia keluar seperti menyinggung perasaan pelanggan saat melakukan transaksi. Namun jika kita mendapatkan harta itu dengan cara yang tidak halal, seperti korupsi maka tetap tidak bisa disucikan. Hal ini dianalogikan (diumpamakan) oleh ulama seperti kotoran binatang yang tidak mungkin kita sucikan.

Baca Juga :  Kalau Menang Bersih, Untuk Apa Bertemu Prabowo? Opini Asyari Usman

Mengapa Allah SWT, mewajibkan kita mengeluarkan zakat, mungkin salah satu faktornya, karena zakat mempunyai fungsi sosial. Ada yang diingatkan Al-Qur’an menyangkut zakat dalam surah An-Nur ayat : 33 ” Berikanlah kepada orang-orang yang butuh harta Allah SWT, yang berada ditangan kamu”.

Sesungguhnya harta itu bukan milik kita. Mari kita lihat logikanya Allah SWT, tidak meminta semua harta kita untuk diberikan kepada orang lain. Zakat perdagangan 2,5% zakat pertanian katakanlah 10% masih tersisa 90% untuk kita.

Keberhasilan kita dalam memperoleh harta itu apakah hasil usaha kita sendiri? Atau ada pihak lain. Yang pertama bahan yang kita buat, bahan mentahnya dari Allah SWT, seperti kursi. Yang kedua keberhasilan kita dalam perdagangan melibatkan banyak pihak seperti polisi, pasar, termasuk melibatkan jalan raya. Yang ketiga kita mengeluarkan zakat itu untuk saudara kita sendiri secara kemanusiaan.

Jadi sebenarnya ada hak Allah SWT, pada harta kita yang mestinya fifti-fifti supaya adil, tetapi Allah SWT, tidak meminta itu, karena Allah SWT, mengetahui bahwa manusia kalau diminta hartanya semuanya pasti kikir.

Dalam pendistribusian zakat kalaupun ada mustahiq (orang yang berhak menerima zakat) berkedudukan bukan faqir dan miskin, tetapi dia sangat membutuhkan modal untuk bekerja maka berikanlah dia zakat. “Pada prinsipnya yang dikendaki dari zakat itu adalah memberikan peluang kerja bagi yang tidak bekerja karena kekurangan modal”.

Baca Juga :  Tim Sukses Bamsoet Umroh ke Mekah dan Wisata Religi ke Yerussalem

Olehnya itu lebih baik memberikan modal kerja dari pada memberikan sedikit-sedikit. Asumsinya dengan memberikan modal maka diharapkan yang diberikan dapat berusaha dan berkembang, sehingga tahun depan ia dapat mengeluarkan zakat inilah yang disebut dengan pengelolaan zakat produktif. Berikan kailnya bukan umpannya.

Inilah sebenarnya yang harus menjadi concern (perhatian) kita semua yang butuh kita berikan sesuai kemampuan kita.

Saat kita ingin memberikan modal, seyogianya kita melihat skill yang dimilikinya apa? Dan berapa yang dibutuhkan? Jadi bisa berbeda antara pandai emas dengan petani.

Zakat sangat dianjurkan didistribusikan kepada orang yang butuh dan yang dekat. Tetapi intinya kepada yang butuh, karena yang dekat tetapi tidak butuh tidak boleh diberikan zakat. Kedekatan itu barometernya bukan hanya kekerabatan tetapi juga tetangga dan hubungan sebangsa.

Kalaulah semua orang yang mempu mempunyai perhatian kepada yang dekat maka bisa dipastikan tidak akan ada orang yang miskin. Hanya saja kita terkadang mau memberi kepada orang-orang yang kita kenal. Itu sebabnya di dalam Al-Qur’an ada istilah Amil. Amil itu antara lain tugasnya adalah mencari orang-orang yang butuh supaya mereka tidak datang meminta-minta demi menjaga air mukanya.

Loading...