Prinsipnya, Jangan Minder dan Rendah Diri

Prinsipnya, Jangan Minder dan Rendah Diri
Ilustrasi Jangan Minder dan Rendah Diri

Prinsipnya, Jangan Minder dan Rendah Diri. Ditulis oleh: Tubagus Soleh, Ketum DPP Ormas Kerabat & Sahabat Kesultanan Banten (BABAD BANTEN), Master Ekspektator & Pengasuh Madrasah Ruhani Sangga Buwana AlBantani.

Setiap Manusia memiliki hak dan kewajiban yang sama yaitu beribadah hanya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Secara jasadi, semua manusia berkedudukan setara. Atau dalam sebuah pribahasa digambarkan duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Tidak boleh ada yang merasa lebih tinggi atau merasa lebih rendah.

Begitulah asal mula kita sebagai manusia. Lalu mengapa dalam realitas kehidupan sepertinya ada semacam kasta sosial yang berbeda. Bahkan seperti ada jurang pemisah yang begitu terasa dan kentara oleh mata inderawi kita? Apa yang seharusnya kita lakukan? Apakah kehidupan di dunia ini merupakan penggambaran kehidupan kita kelak di “akherat” tempat asal kita bermula?

“Dunia” dan “akherat” memiliki terkaitan dan ketersambungan yang utuh. Nabi kita Sayyidina Muhammad Saw mengatakan, addunia majroatul akherat. Dunia itu adalah ladang akherat.

Secara sederhana kita pahami, apapun yang kita lakukan di dunia memiliki ketersambungan dengan alam akherat. Dan tentu saja, dalam bahasa awam sering kita dengar akan diminta pertanggungjawabannya kelak dihadapan Tuhan.

Baca Juga :  Pancasila dan Politik Bangsa. Opini Tubagus Soleh

Syurga dan Neraka

“Syurga” dan “Neraka” adalah simbol tempat akhir dari semua amal perbuatan kita kelak di akherat. Begitu kata para ustaz sering kita dengar ceramahnya.

“Syurga” dan “neraka” adalah tempat untuk semua makhluk Tuhan yang memiliki hak dan tanggungjawab yaitu Manusia dan Jin. Tanpa kecuali.

Bila kita ingin ke “syurga”, lakukan dan kerjakan apa yang diperintahkan dan dilarang Tuhan. Begitu juga sebaliknya. Tidak ada paksaan sedikitpun dari Tuhan kepada Kita.

Tuhan sudah memberikan semua kebutuhan yang bisa digunakan oleh setiap orang untuk menjadi “baik” atau sebaliknya. Kebebasan manusia sudah diberikan. Panduan untuk menjalani kehidupan juga sudah diberikan dan pembimbing kehidupan terbaik juga sudah Tuhan utus untuk manusia.

Mana lagi yang bisa kita dustakan kelak di akherat ketika Tuhan meminta pertanggungjawaban kepada kita? Hanya orang dungu yang berkhayal bisa hidup selamanya dan bisa bebas melakukan apa saja.

Sebagai manusia yang telah diberi kebebasan dan mandat sebagai “khalifahNya” di bumi tentu saja Tuhan akan meminta pertanggungjawaban yang semestinya. Tidak ada yang gratis. Semuanya berbayar.

Adalah salah besar, bila ada orang yang berfikir gimana nanti saja urusan belakang. Yang penting sekarang happy. Padahal itu semua hanyalah fatamorgana belaka. Hanya bayangan “keindahan” yang bisa lenyap dalam sekejap.

Baca Juga :  Relaksasi Masa Pandemi Di Tempat Pariwisata dan Lemahnya Penerapan Hukum

Jangan Minder dan Rendah Diri

Dunia hanyalah tempat tinggal sementara. Dunia hanyalah majroatul akherat. Tempat kita bercocok tanam kebaikan. Menjalankan perintah dan larangan Tuhan sebagaimana yang telah diajarkan oleh para Rosulullah dari Nabi Adam As hingga Nabi dan Rasululloh terakhir kangjeng Nabi Muhammad Shalla Allohu alaihi wa sallam.

Ajaran Tuhan yang disampaikan kepada umat manusia hingga kini masih utuh karena dijaga, dirawat dan dilestarikan oleh para Ulama pewaris Nabi.

Kita bersyukur termasuk hamba Alloh yang beruntung karena mengenal dan dikenalkan ajaran Tuhan dari para Ulama Pewaris Nabi yang soleh seperti para Wali Songo dan para Sultan Nusantara yang linuih.

Agar kita tetap bahagia dalam melakoni kehidupan pada prinsipnya kita jangan minder dan kudu percaya diri full. Karena semua manusia setara di hadapan Tuhan. Hanya yang paling Taqwa yang paling mulia di hadapan Alloh Swt.

Siapa yang merasa paling Taqwa, dia yang akan merasa paling mulia. Berani?

Loading...