Mulyanto: Penanggulangan Covid-19 Pemerintah Bukan Berbasis Ilmiah Tapi Coba-Coba

Mulyanto: Penanggulangan Covid-19 Pemerintah Bukan Berbasis Ilmiah Tapi Coba-Coba
Wakil Ketua FPKS DPR RI Bidang Industri dan Pembangunan, Mulyanto

HARIANNKRI.ID – Anggota Komisi VII DPR RI Mulyanto menyebut selama ini kebijakan pemerintah dalm menanggulangi Covid-19 cenderung berdasarkan metode trial and error bukan scientific based policy. Pentingnya 3T (testing, tracing dan treatment) yang disampaikan para ahli pandemi disebutnya baru disadari belakangan ini.

Demikian disampaikan anggota Komisi VII DPR RI Mulyanto menanggapi pernyataan Menko Marinves, Luhut Panjaitan, dan Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin yang mengaku baru menyadari pentingnya tracing dalam penanggulanan pandemi Covid-19.

Sebelumnya, Menko Luhut Pandjaitan mengaku dirinya makin mengerti bahwa tracing itu penting. Bahkan menurutnya merupakan teknik kunci.

Adapun Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, dalam acara daring yang disiarkan melalui kanal YouTube Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Jumat (30/7/2021) juga mengakui, bahwa 3T dalam penanganan pandemi Covid-19 masih lebih rendah dibandingkan negara lain. Budi menyebut 3T merupakan salah satu strategi paling dasar dan penting untuk mengatasi pandemi selain vaksinasi Covid-19.

Baca Juga :  Kilang Minyak Cilacap Terbakar, Cermin Pertamina Tak Belajar Dari Kasus Sebelumnya

“Untuk mengefektifkan kerja penanggulangan Covid-19 Pemerintah perlu menerapkan kebijakan berbasis ilmiah atau riset (scientific based policy). Bukan berbasis coba-coba (trial and error),” kata Mulyanto dalam pernyataannya, Minggu (1/8/2021).

Menurut Mulyanto, Pemerintah telat menyadari dan memahami pentingnya ilmu pengetahuan dalam mengatasi krisis. Akibatnya, banyak korban jiwa yang tidak tertolong.

“Padahal para ahli pandemi jauh-jauh hari sudah banyak yang menyampaikan pentingnya 3T ini. Termasuk pentingnya karantina wilayah. Pemerintah saja yang tidak aspiratif,” seru mantan peneliti di Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) ini.

Menurutnya, Pemerintah harus terbuka dengan panel ahli yang sangat banyak jumlahnya di Indonesia.

“Beri ruang dan dengarkan suara mereka. Ini akan mendayagunakan potensi nasional yang ada sekaligus mengurangi “kebisingan” dalam pengelolaan negara,” ujar Mulyanto.

Baca Juga :  Mulyanto Ingatkan Harga Batu Bara Meroket, Awasi Pengusaha Nakal

Mulyanto: Tracking di Indonesia Jauh Di Bawah Saran WHO

Tracing adalah adalah testing yang terstruktur mengikuti titik-titik kasus positif, sehingga benar-benar dapat melacak penyebaran kasus Covid-19 dari suatu kasus. WHO menyarakan tracing ini dialakukan sebanyak 20-30 testing untuk setiap kasus positif terkonfirmasi.

“Terkait dengan hal tersebut, dibandingkan dengan Negara-negara tetangga, tracing yang kita lakukan masih sangat lemah. Karena itu wajib untuk ditingkatkan,” tegas Mulyanto.

Laporan Our World in Data (30/7/2021) menyebutkan jumlah tracing per satu kasus positif di Indonesia sebesar 3,8. Masih jauh di bawah saran WHO yang 20-30 testing per satu kasus positif.

“Malaysia angka tracing ini sebesar 10,1.  Angka tracing di Vietnam sebesar 21,1.  Sementara di Singapura angka tracing sebesar  943,8 pengujian per satu kasus positif,” papar Mulyanto. (OSY)

Loading...