Jika Ada Vaksin Dosis Ketiga, Mengapa Pakai Moderna Bukan Vaksin Merah Putih?

Jika Ada Vaksin Dosis Ketiga, Mengapa Pakai Moderna Bukan Vaksin Merah Putih?
Ilustrasi Jika Ada Vaksin Dosis Ketiga, Mengapa Pakai Moderna Bukan Vaksin Merah Putih?

HARIANNKRI.ID – Masa depan vaksin Merah Putih disebut-sebut semakin kelam menyusul wacana vaksinasi dosis ketiga dan kabar pemerintah mencanangkan vaksin Moderna sebagai booster dosis ketiga untuk tenaga kesehatan. Padahal, penggunaan vaksin ini diyakini akan menghemat anggaran negara yang untuk pembelian vaksin impor.

Wacana vaksin dosis ketiga semakin santer menyusul studi para peneliti Cina yang menemukan fakta, bahwa tingkat kekebalan vaksin mengalami penurunan setelah enam bulan disuntikkan. Pemerintah Indonesia sendiri mencanangkan vaksin Moderna sebagai booster dosis ketiga ini untuk tenaga kesehatan.

Menanggapi hal ini, Mulyanto menilai bahwa saatnya kita menggenjot pengembangan vaksin domestik, agar kita tidak tergantung pada vaksin impor.  Apalagi, kalau vaksinasi Covid-19 ini diperlukan pengulangan secara regular dalam beberapa tahun sekali.

Mulyanto mengingatkan Pemerintah bahwa kebutuhan vaksin ke depan akan lebih banyak. Apalagi bila vaksinasi Covid-19 ini diperlukan pengulangan secara regular dalam beberapa tahun sekali.

“Karena itu Pemerintah harus pintar menggunakan anggaran. Agar semua kebutuhan terpenuhi dengan baik,” kata Mulyanto di Jakarta, Senin (2/8/2021).

Baca Juga :  Mulyanto Minta Pemerintah Tangkal Kebocoran Data Pribadi WNI

Menurut mantan peneliti di Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), antusiasme warga terhadap vaksinasi ini cukup tinggi. Beberapa Kepala Daerah mengeluh kehabisan vaksin. Sementara neraca vaksin dan stok yang ada di BUMN Bio Farma diragukan untuk menyangga target 1 juta bahkan 5 juta dosis per hari.

“Jadi memang, selayaknya Pemerintah menggenjot pengembangan Vaksin Merah Putih. Dengan memenuhi kebutuhan sumber daya dan sarana riset yang diperlukan. Termasuk untuk uji klinis dan produksi massalnya,” ujarnya.

Pentingnya Vaksin Merah Putih 

Mulyanto meyakini, para peneliti vaksin Indonesia mampu berinovasi untuk itu. Ia menyebut, tim LBM Eijkman dan Tim Universitas Airlangga di bawah koordinasi Konsorsium Riset Covid-19, BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) adalah dua lembaga yang memperlihatkan kinerja terdepan.

Mulyanto menilai, penggunaan vaksin Merah Putih menjadi penting dan mendesak sebagai upaya membangun keunggulan SDM dan kemandirian inovasi domestik. Selain juga agar Indonesia tidak sekedar menjadi pasar bisnis vaksin semata.

Baca Juga :  Warga Tangerang Selatan Terima Sertifikat dari Jokowi

Mulyanto menyayangkan bila anggaran dari utang yang terbatas ini terkuras habis ratusan triliun untuk membeli puluhan juta dosis vaksin impor.

“Sayangnya, Pemerintah terkesan adem-adem saja dan membiarkan riset vaksin Merah Putih ini berjalan bisnis as usual. Bahkan terkesan masih maju-mundur,” kata Wakil Ketua FPKS DPR RI Bidang Industri dan Pembangunan itu.

Seperti diketahui, saat ini Indonesia memiliki 11 platform riset vaksin Merah Putih yang dijalankan oleh 6 lembaga riset pemerintah dan perguruan tinggi, yakni LBM Eijkman, LIPI, UI, ITB, Unair, dan UGM.

Yang tercepat, LBM Eijkman menjadwakan uji klinis tahap 1-3 bersama BUMN Bio Farma pada buan Juli-Desember 2021 dan target memperoleh izin BPOM dan diproduksi massal pada bulan Januari 2022.

Namun karena kondisi infrastruktur produksi vaksin BUMN Bio Farma hanya dapat memproduksi vaksin berbasis protein rekombinan ragi maka produksi massal vaksin ini diperkirakan paling cepat September 2022. (RED)

Loading...