Menafsirkan Tahapan Upacara Perkawinan Adat Jawa di Klaten

Menafsirkan Tahapan Upacara Perkawinan Adat Jawa di Klaten
Tim Pengmas UI memberdayakan kemampuan menafsirkan tahapan upacara perkawinan adat Jawa di Klaten, Jawa Tengah, Jumat (31/12/2021)

HARIANNKRI.ID – Tim Pengmas UI memberdayakan kemampuan menafsirkan tahapan upacara perkawinan adat Jawa di Klaten, Jawa Tengah. Pemberdayaan kemampuan menafsirkan tahapan upacara perkawinan adat Jawa dilaksanakan melalui sarasehan dan pelatihan.

Dr. Darmoko, S.S., M.Hum dan Tim Pengabdian Masyarakat UI 2021 (Meilisa Arismaya Wanti dan Galang Adhi Pradipta) menjelaskan, kekayaan sumber daya alam di Klaten, Jawa Tengah memang tidak dapat disangsikan. Lahan pertanian yang luas, mata air berlimpah, dan potensi wisata alam. Termasuk sejarah yang tersebar di hampir setiap kecamatan menjadikan Kabupaten Klaten, Jawa Tengah semakin makmur. Klaten juga memiliki segudang sumber daya manusia yang handal dalam hal pembinaan, pengembangan, dan pelestarian kebudayaan Jawa.

Sanggar seni yang berperan penting sebagai agen pelestari budaya Jawa banyak kehilangan peminat dan pembimbing. Karena dianggap tidak seiring lagi dengan perkembangan zaman. Mengetahui masalah tersebut, tim memberdayakan kembali potensi kemampuan menafsirkan tahapan upacara perkawinan adat Jawa di Klaten, Jawa Tengah.

“Diperlukan sanggit dalam menafsirkan tahapan upacara perkawinan adat Jawa. Penafsiran dalam pemaknaan sebuah objek dalam budaya Jawa berkorelasi dengan sejarah, religi (mitos), tradisi, dan konvensi,” kata Dr. Darmoko kepada media, Jumat (31/12/2021).

Lanjutnya, untuk dapat menfasirkan tahapan upacara tersebut, seseorang perlu memiliki kekuatan imajinasi, kepekaan intuisi, intelektualitas, dan penguasaan kode budaya yang memadai. Sehingga akan diperoleh pemaknaan yang benar dan tepat, logis, relevan, dan aktual.

“Oleh karena upacara perkawinan adat Jawa mengandung teks naratif. Maka penafsiran suatu objek atau gejala budaya dalam upacara perkawinan adat Jawa tersebut juga berorientasi pada resultan. Yang diharapkan memiliki kriteraia mungguh, mulih, tutug, dan kempel,” ujar Dr. Darmoko.

Metodologi Penafsiran Tahapan Upacara Perkawinan Adat Jawa

Menurut Pakar Budaya Jawa tersebut, Metodologi penafsiran tahapan perkawinan adat Jawa ini diapdopsi dan dikembangkan dari kerangka konseptual teoritis dan metodolologi Darmoko dalam disertasinya Tahun 2017 yang berjudul Wayang Kulit Purwa Lakon Semar Mbabar Jatidiri: Sanggit dan Wacana Kekuasaan Soeharto. Dalam disertasi disebutkan bahwa sanggit sebagai konsep dan sanggit sebagai metodologi lokal.

Pemberdayaan kemampuan menafsirkan tahapan upacara perkawinan adat Jawa dilaksanakan melalui sarasehan dan pelatihan. Dengan menggandeng para panata laksana adicara (pembawa acara) upacara perkawinan adat Jawa setempat sebagai narasumber. Seperti Kepala Desa, S. Setyo Budi, Sukamto. Dalam kegiatan yang berlangsung secara daring dan luring pada 31 Desember 2021 di Desa Borongan, Polanharjo, Klaten, Jawa Tengah tersebut sejumlah narasumber memberikan materi. Mereka sekaligus melatih masyarakat untuk praktek sebagai pembawa acara dan juga kepiawaiannya menafsirkan tahapan upacara tersebut.

“Kami para warga Desa Borongan, Polanharjo, Klaten, Jawa Tengah mengucapkan terima kasih atas kerjasama yang dibangun oleh Universitas Indonesia. Melalui Program Pengabdian Masyarakat Penugasan 2021,”kata Kepala Desa Borongan, S. Setyo Budi. (SUB)

Loading...