Reformasi Polri Suatu Keniscayaan  Belajar Dari Kepolisian Jepang

  • Whatsapp
Reformasi Polri Suatu Keniscayaan  Belajar Dari Kepolisian Jepang
Reformasi Polri Suatu Keniscayaan  Belajar Dari Kepolisian Jepang. Ditulis oleh: Dr. Nicholay Aprilindo, Alumnus PPSA XVII LEMHANNAS RI 2011, Praktisi Hukum Dan HAM

Reformasi Polri Suatu Keniscayaan  Belajar Dari Kepolisian Jepang. Ditulis oleh: Dr. Nicholay Aprilindo, Alumnus PPSA XVII LEMHANNAS RI 2011, Praktisi Hukum Dan HAM

Pendahuluan :

Reformasi bukan Sekadar Wacana,

Reformasi Polri bukan lagi ruang diskusi, bukan pula retorika politik. Ini adalah kebutuhan sistemik yang mendesak,

ketika kepercayaan publik terhadap institusi penegak hukum terguncang, maka yang terancam bukan hanya Polri, tetapi fondasi negara hukum itu sendiri.

Untuk itu, kita butuh contoh yang konkret misalnya seperti  Kepolisian Jepang (Keisatsu) adalah contoh institusi yang berhasil membangun profesionalisme, efisiensi, dan kepercayaan publik melalui sistem yang terstruktur dan berbudaya kerja yang berintegritas.

Visi-Misi dan Sistem Kerja:

Desentralisasi yang Terkoordinasi

Polri masih beroperasi dalam sistem komando terpusat yang sering kali menghambat respons lokal, sebaliknya, Kepolisian Jepang menerapkan sistem desentralisasi dengan pengawasan nasional melalui National Public Safety Commission yang independen dari kepolisian dan politik.

– Visi Jepang : Menjaga keamanan publik dengan pendekatan sipil dan partisipatif._

– Sistem kerja : Setiap prefektur memiliki otonomi operasional, namun tetap terkoordinasi secara nasional melalui National Police Agency (NPA).

Polri perlu menata ulang sistem kerja agar lebih adaptif terhadap kebutuhan lokal, namun tetap terintegrasi secara nasional.

Budaya Organisasi :

Profesionalisme Sipil, Bukan Militeristik

Budaya Polri masih sarat dengan hierarki dan patronase. Di Jepang, kepolisian adalah institusi sipil yang menekankan pada :

– Etika pelayanan publik

– Keterlibatan masyarakat dalam pengawasan

– Transparansi dalam setiap tindakan.

Reformasi budaya Polri harus dimulai dari  menghapus mentalitas feodal dan menggantinya dengan etos sipil yang humanis.

Rekrutmen dan Pendidikan :

Meritokrasi Tanpa Toleransi

Polri masih menghadapi tantangan dalam rekrutmen yang rawan nepotisme dan transaksi. Kepolisian Jepang menerapkan seleksi ketat berbasis merit, dengan pelatihan intensif di akademi yang menekankan pada :

– Etika dan hukum

– Keterampilan komunikasi dan mediasi

– Penguasaan teknologi dan data kriminal nasional

Polri harus menegakkan sistem rekrutmen yang bersih, transparan, dan berbasis kompetensi. Pendidikan harus membentuk karakter, bukan sekadar teknis.

Pembinaan Karir dan Leadership :

Dari Komando ke Transformasi

Di Jepang, karir polisi dibina melalui sistem rotasi, pelatihan berjenjang, dan penilaian kinerja berbasis objektif. Pimpinan kepolisian bukan hanya ahli taktik, tapi juga harus :

– Pemimpin transformasional

– Manajer publik yang efisien

– Komunikator yang mampu menjawab kritik dan membangun kepercayaan

Polri perlu membangun sistem karir yang adil dan berbasis prestasi, serta melatih pimpinan dengan keterampilan manajerial dan kepemimpinan etis.

Pengawasan dan Penindakan :

Sipil Mengawasi Polisi

Di Jepang, pengawasan dilakukan oleh Komisi Keselamatan Publik Prefektur, yang anggotanya berasal dari masyarakat sipil, bukan polisi. Ini menciptakan:

– Akuntabilitas eksternal

– Transparansi dalam penindakan

– Kepercayaan publik yang tinggi

Polri harus membuka ruang pengawasan sipil dan menjamin penindakan terhadap pelanggaran dilakukan secara terbuka dan konsisten.

Penutup :

Reformasi Itu Tindakan, Bukan Narasi

Reformasi Polri harus dimulai sekarang. Bukan dalam bentuk pidato, tapi dalam bentuk:

– Penataan ulang sistem kerja

– Perubahan budaya organisasi

– Perbaikan rekrutmen dan pendidikan

– Pengawasan sipil yang nyata

– Kepemimpinan yang berani dan transformatif.

Kepolisian Jepang bukan sekadar inspirasi, tapi cermin.

Jika Polri ingin menjadi institusi yang dihormati, bukan ditakuti, maka reformasi harus menjadi gerakan sistemik yang berkelanjutan dan tak bisa ditunda.

Merujuk pada komposisi  National Public Safety Commission (NPSC) Jepang terdiri dari:

Struktur Keanggotaan NPSC :

– Ketua Komisi :

Seorang Minister of State (Menteri Negara) yang ditunjuk oleh Perdana Menteri. Ia memiliki tanggung jawab administratif dan menjadi penghubung antara NPSC dan kabinet.

– Lima Anggota Komisi :

– Ditunjuk oleh Perdana Menteri dengan persetujuan kedua majelis parlemen Jepang,

– Bukan politisi aktif dan bukan anggota kepolisian.

– Berasal dari latar belakang profesional yang beragam, seperti akademisi, pengacara, diplomat, jurnalis, dan tokoh masyarakat.

Contoh Anggota NPSC (data terkini) :

– Manabu Sakai : Ketua, berasal dari Partai Demokrat Liberal.

– Midori Miyazaki : Ilmuwan politik, Presiden Universitas Perdagangan Chiba.

– Yukio Takebe : Pengusaha, penasihat Mitsui & Co.

– Hirotomo Nomura : Mantan ketua Nikkei Business Publications.

– Hitomi Akiyoshi : Ahli hukum, mantan Presiden Pengadilan Tinggi Takamatsu.

– Kōichi Aiboshi : Mantan Duta Besar Jepang untuk Korea Selatan.

Fungsi Utama NPSC :

– Menjamin netralitas politik dalam sistem kepolisian.

– Mengawasi National Police Agency (NPA).

– Menetapkan kebijakan umum kepolisian.

– Melakukan pengangkatan dan pemberhentian pejabat tinggi kepolisian.

Catatan penting :

Sistem ini dirancang untuk mencegah intervensi politik dalam operasional kepolisian dan menjaga prinsip demokrasi dalam penegakan hukum.

Tulisan ini merujuk pada sejumlah sumber kredibel yang mendokumentasikan proses dan praktik reformasi Polri serta belajar dari Kepolisian Jepang.

Berikut adalah referensi utama yang menjadi landasan analitiknya:

Referensi Utama Reformasi Polri :

  1. Program Dukungan terhadap Reformasi POLRI oleh Pemerintah Jepang Dokumentasi kerja sama antara Polri dan Kepolisian Nasional Jepang (NPA) sejak tahun 2001, termasuk pengenalan konsep Perpolisian Masyarakat (Polmas) sebagai strategi dasar reformasi.
  2. Bagan Konsep Program JICA: Bantuan Reformasi POLRI. Menjelaskan visi, tujuan, dan skema pelatihan serta penguatan sistem kepolisian sipil di Indonesia melalui pelatihan SDM, pertukaran tenaga ahli, dan pembentukan sistem pelatihan berbasis karakter wilayah.
  3. Studi dan Pelatihan di Jepang untuk Pengembangan Polisi Sipil Indonesia Termasuk pelatihan di Jepang, seminar perpolisian, dan pembentukan kota aman sebagai bagian dari transfer pengetahuan dan budaya kerja profesional dari Kepolisian Jepang ke Polri.
  4. Artikel dan dokumentasi dari Kedutaan Besar Jepang di Indonesia Menyediakan narasi historis dan tokoh kunci yang berperan dalam membangun hubungan bilateral untuk reformasi kepolisian.

Pos terkait