Limbah B3 Dikategorikan Sebagai Tipiter, Polres Salatiga Tidak Teliti dan Tidak Cermat

Limbah B3 Dikategorikan Sebagai Tipiter, Polres Salatiga Tidak Teliti dan Tidak Cermat
Dr.Marthen H.Toelle,Bc.Hk., SH., MH

Limbah B3 Dikategorikan Sebagai Tipiter (Tindak Pidana Tertentu), Polres Salatiga Tidak Teliti dan Tidak Cermat. Ditulis oleh: Dr.Marthen H.Toelle,Bc.Hk., SH., MH. Praktisi Hukum.

Tentang limbah B3, menarik untuk diketahui beberapa jenis/kategori tindak pidana, yang secara umum diatur dalam hukum pidana. Pada prinsipnya dalam teori hukum pidana dikenal adanya Tindak Pidana Umum, Tindak Pidana Khusus dan Tindak Pidana Tertentu.

Pada tataran praksis, perbedaan antara ketiga macam tindak pidana tersebut dapat kita temukan dalam organisasi pada lingkungan Polri. Ada Direktur yang menangani tindak pidana umum, ada Direktur yang menangani Tindak Pidana Umum dan ada Direktur yang menangani Tindak Pidana tertentu. Tindak Pidana Umum merupakan lingkup perbuatan Pembunuhan, Penipuan, Penggelapan dan lain-lainnya. Tindak Pidana Khusus, lebih mudah dikenal dengan tindak Pidana Korupsi, serta Tindak Pidana Tertentu, belum banyak dikenal oleh masyarakat.

Terkait limbah B3 atau Limbah Bahan Beracun dan berbahaya. Menurut PP no. 101 tahun 2014, definisinya adalah sisa usaha atau kegiatan yang mengandung zat atau komponen yang secara langsung maupun tidak dapat mencemarkan, merusak, atau membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, serta kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lain.

Limbah B3 sering juga disebut mengandung zat atau bahan anorganik berbahaya yang bersifat teratogenik. Teratogenik itu sendiri dilansir dari Wikipedia adalah sebuah bahan berbahaya yang dapat membuat perkembangan menjadi tidak normal. Seperti misalnya dalam medis, perkembangan dari sel selama masa kehamilan yang dapat merusak embrio.

Limbah B3 seringkali kita temui di kehidupan kita sehari-hari, namun karena ketidaktahuan, tanpa sadar kita memperlakukan jenis limbah ini sama seperti kita memperlakukan sampah biasa. Padahal, konsekuensi jangka panjangnya terhadap lingkungan dan kesehatan kita sangat berbahaya.

Ada tujuh jenis limbah B3 yang paling umum kita jumpai dikeseharian kita, namun sering kita abaikan penanganannya.

1. Baterai Bekas

Kita pasti pernah membuang sisa baterai bekas ke dalam tempat sampah yang juga kita pakai untuk membuang sampah plastik maupun kertas bekas. Padahal baterai bekas seharusnya dibuang secara terpisah, karena mengandung unsur kimia yang membahayakan. Pada baterai umumnya terdapat unsur zinc, karbon, campuran MnO2 (Mangan Dioksida), serbuk karbon dan NH4Cl (Ammonium Klorida). Sedangkan baterai yang dapat diisi ulang mengandung kadmium, Nikel dan alkaline (potassium hidroksida).

Jika kita membuangnya secara sembarangan, bahan-bahan kimia tersebut dapat mencemari tanah, air tanah, dan secara tidak langsung dapat masuk ke rantai makanan melalui tumbuhan yang dikonsumsi manusia.Sebagai contoh, dampak yang muncul apabila keracunan logam kadmium adalah tekanan darah tinggi, kerusakan ginjal, kehilangan sel darah merah, gangguan lambung serta kerapuhan tulang. Mangan dalam jumlah yang besar dapat menyebabkan keracunan dan kerusakan saraf pada manusia. Ini dapat menyebabkan terjadinya halusinasi, parkinson, emboli paru-paru dan bronkitis.

2. Lampu TL dan Bohlam

Apa yang anda lakukan dengan lampu bekas di kantor atau rumah anda? Apakah anda buang ke tempat sampah, atau anda pisahkan dari jenis sampah lain? Kebanyakan dari kita mungkin masih membuang langsung ke tempat sampah tanpa memisahkan dari jenis sampah lain. Mulailah memisahkan limbah lampu anda karena lampu pendar dan TL mengandung nikel dan merkuri yang sangat berbahaya bagi metabolisme tubuh manusia.

Di dalam setiap lampu pendar terdapat 5 miligram merkuri, yang berbentuk bubuk maupun uap. Uap merkuri ini adalah neurotoksin, atau racun yang sangat berbahaya dan berakibat fatal pada otak dan ginjal. Jika terakumulasi dalam tubuh dapat merusak sistem saraf, janin dalam kandungan, dan jaringan tubuh. Pada anak-anak, merkuri bahkan dapat mengakibatkan penurunan IQ, yang efeknya akan sangat berdampak hingga tua.

Baca Juga :  Dugaan Maladministrasi RSUD Kota Salatiga Dalam Penerbitan Visum Et Repertum & Surat Tugas Sebagai Ahli Dalam Perkara Pidana Dengan Terdakwa Sriyono Alias Penjol
3. Oli Bekas

Oli biasanya banyak digunakan oleh mesin bermotor. Seperti misalnya mesin genset yang digunakan oleh gedung-gedung komersial seperti gedung perkantoran, apartemen ataupun juga pusat perbelanjaan seperti mal. Tetapi tahukah anda bahwa oli ini mengandung logam berat yang berbahaya bagi manusia? Secara medis, materi logam berat ini dapat menyebabkan kerusakan pada ginjal, saraf dan menyebabkan beberapa penyakit berbahaya seperti kanker.

4. Aki Bekas

Untuk anda yang bergerak di bidang otomotif, maka istilah aki bekas sudah tidak asing lagi. Tapi apakah anda tahu bahwa aki bekas juga termasuk limbah B3 yang harus diolah dengan benar? Kenapa? Karena sesuai dengan data dari Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Bersama Australia Aid debu timbal yang terkandung di dalamnya dapat menyebabkan pencemaran lingkungan.

Apalagi air aki bekas termasuk limbah B3 karena bersifat korosif. Air aki bekas dapat menyebabkan benda lain hancur atau memperoleh dampak negatif. Selain itu bagi manusia, secara medis dapat menyebabkan kerusakan pada mata, kulit, sistem pernapasan, dan banyak lagi.

5. Toner Atau Tinta Printer Bekas

Satu lagi contoh barang yang akrab sekali digunakan di perkantoran yaitu printer yang harus menggunakan toner. Tahukah anda bahwa toner itu adalah termasuk limbah B3 yang tidak boleh disamakan dengan sampah biasa? Toner atau tinta printer ini ternyata memiliki karbon aktif di dalam bubuk toner yang mengandung zat karsinogen yang sangat berbahaya bagi kesehatan.

Partikel toner berukuran sangat kecil dan tidak dapat dilihat oleh mata manusia dan dapat bertahan di udara dalam jangka waktu yang panjang. Bayangkan anda menghirup udara tersebut tanpa menyadari akibatnya. Dalam jangka pendek dapat menyebabkan beberapa gangguan medis seperti iritasi kulit dan mata, sakit kepala, gatal, gangguan pernapasan bahkan kanker.

6. E-Waste

Apa itu e-waste? E-waste adalah limbah segala macam elektronik yang sudah tidak terpakai seperti TV, smartphone, AC, mesin cuci, kamera cctv, telepon dan masih banyak lagi. Menurut laporan limbah e-waste yang dikeluarkan oleh Global E-Waste, secara statistik Asia menghasilkan volume limbah elektronik terbesar pada 2019 (24,9 Mt), diikuti oleh Amerika (13,1 Mt) dan Eropa (12 Mt). Sedangkan Afrika dan Oseania masing-masing menghasilkan 2,9 Mt dan 0,7 Mt. Limbah elektronik berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan karena terbukti mengandung zat berbahaya seperti merkuri. Ada 50 ton merkuri yang kemungkinan ditemukan dalam aliran limbah elektronik yang tidak berdokumen.

7. Limbah Medis

Bahwa ada 90 lebih klasifikasi jenis jenis limbah B3 sesuai dengan PP No.101 Tahun 2014. Adapun jenis jenis limbah medis terdiri dan berasal dari :

Rumah Sakit
A337-1 – Infeksius – Limbah klinis memiliki karakteristik infeksius (Rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan) / (Medis Padat/Medis Cair)
A337-2 – Beracun – Produk farmasi kadaluarsa dari rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan
A337-3 – Beracun – Bahan kimia kadaluarsa dari rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan
A337-4 – Beracun – Peralatan laboratorium terkontaminasi B3 dari rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan
A337-5 – Berbahaya Terhadap Lingkungan – Peralatan medis mengandung logam berat termasuk merkuri (Hg), Kadmium (Cd), dan sejenisnya B3 dari rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan
B337-1 – Beracun – Kemasan produk farmasi dari rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan
B337-2 – Beracun – Sludge IPAL dari rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan
A338-1 – Beracun – Bahan kimia kadaluarsa dari laboratorium riset dan komersial mencakup industri memiliki laboratorium (Laboratorium riset dan komersial mencakup industri yang memiliki laboratorium)
A338-2 – Beracun – Peralatan laboraorium terkontaminasi B3 dari laboratorium riset dan komersial mencakup industri memiliki laboratorium
A338-3 – Beracun – Residu sampel limbah B3 dari laboratorium riset dan komersial mencakup industri memiliki laboratorium
A339-1 – Beracun – Larutan developer, fixer dan bleach bekas
B339-2 – Beracun – Tinta, toner dari kegiatan fotografi
A346-1 – Korosif – Larutan kaustik bekas (laundry dan dry cleaning)
B346-1 – Beracun – Sludge dari proses cleaning dan degreasing
A347-1 – Berbahaya Terhadap Lingkungan – Fly ash insinerator dari kegiatan pengoperasian insinerator limbah (pengoprasian insinerator limbah)
A347-2 – Berbahaya Terhadap Lingkungan – Slag atau bottom ash insinerator

Baca Juga :  KPUD Raja Ampat Minta Pemda Turunkan Sisa Anggaran NPHD
B347-1 – Berbahaya Terhadap Lingkungan – Residu pengolahan flue gas insinerator dari kegiatan pengoperasian insinerator limbah.

B347-2 – Beracun – Filter dan absorban bekas insinerator dari kegiatan pengoperasian insinerator limbah
B347-3 – Beracun – Sludge IPAL insinerator dari kegiatan pengoperasian insinerator limbah
B353-1 – Beracun – Toner bekas
A102d – Beracun, Korosif – Aki/Baterei Bekas
A106d – Beracun – Limbah dari laboratorium yang mengadung B3
A111d – Beracun – Refrigerant bekas dari peralatan elektronik
B104d – Beracun – Kemasan Bekas B3
B105d – Cairan Mudah Menyala – Minyak pelumas bekas antara lain minyak pelumas bekas hidrolik, mesin, gear, lubrikasi, insulasi, heat transmission, grit chambers, separator dan/atau campurannya
B107d – Beracun – Limbah Elektronik termasuk Cathode Ray Tube (CRT) Lampu TL, Printed Circuit Board (PCB) karet kawat
B110d – Padatan Mudah Menyala – Kain majun bekas (used rags) dan yang sejenisnya

Setelah kita mengetahui jenis-jenis limbah B3 dan bahaya yang diakibatkan oleh penanganan yang salah, mari kita mulai menanganinya dengan benar.

Penanganan yang benar dapat dimulai dengan memisahkan limbah B3 dari jenis-jenis sampah lannya, dan menempatkannya dalam wadah khusus yang terpisah.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa limbah B3 tersebut diatas memiliki spesifikasi penanganan yang cermat, teliti, dengan penanganan oleh personal-personal yang dididik khusus untuk itu. Yang menurut informasi Kementerian Lingkungan Hidup telah melakukan latihan dan pendidikan khusus untuk para penyidik dari Kepolisian dan personil dari Dinas Lingkungan hidup Kabupaten /kota seluruh Indonesia. Yang selain memiliki sertifikat PPNS juga memiliki Sertifikat PPLHD (Pejabat Penyidik Lingkungan Hidup Daerah).

Terkait penanganan limbah B3 RSUD Salatiga, persyaratan dan kompetensi para penyidik adalah mutlak diberlakukan dan ditaati. Tterutama juga seberapa jauh melibatkan PPNS/PPLHD dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Salatiga.

Oleh karena itu adalah patut bila TIPITER Polda Jateng, yang memiliki kualifikasi dan kompetensi untuk penyelidikan limbah B3 pada RSUD Salatiga, agar menindaklanjuti penyelidikan ini dengan melakukan koordinasi bersama Penegak Hukum (Gakum) Dinas LH Jateng. Bahwa saat ini dan kedepan perlindungan atas kesehatan masyarakat dari limbah B3 ini menjadi prioritas Kepolisian dan Dinas Lingkungan Hidup Kota/Kabupaten Se Jateng.

Sebagai perbandingan kepekaan pemerintah dalam hal penggunaan “Genose bekas” covid 19 di Bandara Kualanamu Sumatera Utara, demikian serius dan serta merta, para pegawai bahkan salah satu petinggi Kimia Farma terciduk, mengapa kasus limbah B3 RSUD Kota Salatiga, seolah-olah cuek dan dianggap sepi-sepi saja.

Loading...