Nasehat Itu Bernama Kematian. Opini Syarif Tubagus Soleh

Nasehat Itu Bernama Kematian. Opini Syarif Tubagus Soleh
Nasehat Itu Bernama Kematian. Opini Syarif Tubagus Soleh

Nasehat Itu Bernama Kematian. Ditulis oleh: Syarif Tubagus SolehKetum DPP Kerabat & Sahabat Kesultanan Banten (Babad Banten).

Semangat Pagi Para dulur-dulur Babad Banten

Pernahkah kita membayangkan seandainya hari ini kita mati? Meninggalkan dunia dan semua yang kita “miliki”? Dan kemudian dikuburkan sendirian di lubang seukuran badan kita dengan dibungkus 2,5 meter kain kafan saja?

Saya sendiri, bila membayangkan tentang kematian begitu sangat bergetar, khawatir dan jujur saja masih ada rasa takut. Tapi karena kematian adalah sebuah kepastian siapapun harus siap ketika waktu azalnya tiba.

Ya, kematian memang memberikan makna khusus buat kehidupan kita. Bahkan menurut Sang Bijak, kematian merupakan Nasehat yang mencerahkan. Siapapun bila melihat kematian pasti dirinya akan tersadarkan. Karena selama dunia berputar dalam jagad tata surya, tidak ada atau belum pernah ada makhluk yang abadi kehidupannya. Siapapun pasti sampai pada titik azalnya. Dan disitulah kematian telah siap menjemputnya.

Bila kelahiran membuat banyak keluarga bergembira atas kehadiran sang bayi, apakah kelak kematian kita akan banyak orang “menangis” dan merasa “kehilangan”?

Saya dulu selalu ditanya oleh guru, bila Tb Soleh mati mau dikenang sebagai apa? Dan bila Tb Soleh mati apakah sama kematiannya dengan kambing, kerbau, sapi dan anjing? Atau kematian Tb Soleh sebagai kematian seorang hambaNya, seorang manusia?

Baca Juga :  Prabowo-Sandi Pasti Kalah Kalau Tidak Mendengarkan Relawan

Nasehat Kematian

Sampai sekarang pertanyaan-pertanyaan dari guru saya tersebut selalu saya tafakuri.

Ya, seandainya saya mati hari ini, saya akan diingat oleh anak istri saya sebagai apa? Apakah seorang ayah yang baik, yang inspiratif, baik hati, penyayang atau sebaliknya.

Dan pertanyaan yang paling serius adalah apakah kematian saya sama seperti kematian kucing, sapi, kerbau, ayam atau anjing?

Oh seandainya sama, apa bedanya saya dengan binatang kerbau, kucing, sapi, anjing dan lain lain? Yang kematiannya berakhir sebagai Bangkai.

Ya Alloh, kematian sebagai manusia ternyata begitu “berat”. Untuk mendapatkan predikat “khusnul khotimah” dalam akhir kehidupan, kita harus berjuang secara serius dari awal hingga akhir.

Tidak ada ceritanya, orang yang hidupnya selalu berbuat “dosa” akan mendapatkan predikat “khusnul khotimah. Sekalipun berstatus ustaz, kyai, mubalig, khotib tidak ada jaminan dalam akhir hidupnya akan berakhir mulus. Kita tidak pernah tahu akhir kehidupan seseorang. Hanya Alloh subhana wa taala Yang Maha Tahu segalaNya.

Baca Juga :  Agus Rahardjo Tidak Usah Paranoid! Opini Prihandoyo Kuswanto

Bagi kita yang selalu masih “gemar berbuat dosa” dan lalai dalam menjalankan perintah dan laranganNya. Tidak perlu berkecil hati. Pintu Taubat selalu terbuka 24 Jam. Fasilitas yang Alloh Subhana wa Taala berikan ini tidak akan ditutup selama ruh kita masih dikandung badan. Kita boleh Kembali kepadaNya dalam setiap detik napas kita. Tanpa jarak bahkan lebih dekat dengan urat nadi kita.

Inilah peluang dan kesempatan yang selalu terbuka dan dibuka oleh Alloh Swt untuk mendapatkan predikat sebagai khusnusl khotimah di akhir kehidupan kita, sebelum sang maut malaikat izrail mencabut nyawa kita.

Janganlah kalian meninggal kecuali dalam berprasangka baik kepada Alloh (HR Muslim).

Hanya orang-orang yang beriman, yang bisa meninggal dalam berprasangka baik kepada Alloh. Jadi, benahi Iman kita kepada Alloh dengan sebenar-benarnya Iman. InsyaAlloh karunia Alloh yang sangat besar pasti kita dapatkan baik berupa bimbingan spiritual, mental dan material yang berlimpah.

Mengingat-ngingat kematian tanpa Iman hanya akan menimbulkan ketakutan.

Mengingat-ngingat kematian dengan Iman menumpuhkan keyakinan, pencerahan dan kelembutan akhlak pada semua makhluk.

Semoga kita selalu dalam lindungan Rahmat Alloh subhana wa taala. Amiin

Loading...