Serius Nih Mau Interpelasi? Walau Ajang Formula E Bakal Tekor, Apa Sih Pentingnya Buat Anies?

Serius Nih Mau Interpelasi? Walau Ajang Formula E Bakal Tekor, Apa Sih Pentingnya Buat Anies?
Ilustrasi Serius Nih Mau Interpelasi? Walau Ajang Formula E Bakal Tekor, Apa Sih Pentingnya Buat Anies? Opini Andre Vincent Wenas, Pemerhati Ekonomi Politik

Serius Nih Mau Interpelasi? Walau Ajang Formula E Bakal Tekor, Apa Sih Pentingnya Buat Anies? Ditulis oleh: Andre Vincent Wenas, Pemerhati Ekonomi Politik.

Kabarnya Fraksi PSI dan PDIP di parlemen Jakarta mau menginterpelasi Gubernur Anies Baswedan terkait soal event Formula-E. Serius nih?

Pertanyaan ‘serius nih?’ itu tentu tertuju buat Fraksi PDIP. Kalau Fraksi PSI sih sudah beberapa kali menginisiasi hak interpelasinya dan selalu – ujungnya – dicuekin fraksi lainnya. Bahkan Fraksi PSI pernah ditinggal sendirian di sidang paripurna lantaran semua fraksi lainnya walk-out.

Ya tentu saja ada harapan besar terhadap fraksi PDIP agar kali ini benar-benar serius. Walau Anies sudah hampir di penghujung masa jabatannya, ia akan pensiun sebagai Gubernur pada Oktober tahun depan (2022).

Yah, kita lihat saja bagaimana perkembangannya dalam satu dua minggu ke depan.

Semoga saja bukan dengan semangat “habis manis sepah dibuang” ya. Anggaran bancakan sudah cekak, sehingga “abang tak disayang lagi, maka abang pun ditendang saja.”

Semoga sungguh-sungguh mau ‘menyelamatkan’ triliunan uang rakyat gegara event bodong Formula-E itu.

Adalah Anggara Wicitra Sastroamidjojo, anggota Fraksi PSI di DPRD DKI Jakarta, yang meminta agar studi kelayakan baru untuk penyelenggaraan Formula-E ini segera diberikan kepada BPK jika Anies ngotot untuk tetap menyelenggarakannya tahun depan (2022).

Ngototnya Anies Baswedan ditunjukan dengan mengeluarkan Instruksi Gubernur No.49/2021. Di situ, Anies menyebut bahwa Formula E jadi isu prioritas yang harus dituntaskan tahun 2022 bulan Juni. Itu artinya 4 bulan sebelum masa jabatannya berakhir di Oktober 2022.

Anggara Wicitra pun bersikeras agar Studi Kelayakan yang baru mesti diserahkan dulu ke BPK. Lugas ia mengatakan, “Namanya juga studi kelayakan, ini akan menentukan layak atau tidaknya dilakukan. Jangan memaksakan ego dan menghambur-hamburkan uang rakyat.”

Karena dalam studi kelayakan sebelumnya Anies sesumbar bahwa ajang Formula-E ini diklaim bisa menguntungkan Pemprov DKI Jakarta sebesar Rp 3,12 triliun!

Terhadap ini pun kita heran sekali, apakah Gubernur Anies ini tidak bisa membedakan antara ‘pemasukan’ (revenue) dengan ‘keuntungan’ (profit)???

Karena ternyata yang disebut Anies dengan angka Rp 3,12 Triliun itu adalah baru (potensi) Pemasukan (revenue) dari gelaran event Formula-E.

Angka itu didapat dari perkiraan pemasukan yang disebut ‘Dampak Ekonomi’ sebesar sekitar Rp 2,58 Triliun ditambah ‘Pendapatan Finansial Jakpro’ sekitar Rp 0,54 Triliun.

Namun sekali lagi, itu belumlah keuntungannya, lantaran belum dikurangi segala biaya yang mesti dikeluarkan. Lalu berapa biayanya dong?

Begini, ternyata ada biaya yang tidak dicantumkan dalam Studi Kelayakan yang lama. Biaya yang sudah dicantumkan dulu hanyalah ‘Biaya Pelaksanaan’ sebesar sekitar Rp 1,24 Triliun.

Maka biaya itu pun mestinya ditambah lagi biaya yang belum dicantumkan, yaitu Bank Garansi sekitar Rp 0,89 Triliun plus ‘Commitment-Fee’ sekitar Rp 2,35 Triliun. Sehingga total biayanya jadi Rp 4,48 Triliun.

Maka hitungan ‘Keuntungan’ (Profit) nya pun mudah saja. Dengan total (potensi) Pemasukan Rp 3,12 Triliun dikurangi Total Biaya Rp 4,48 Triliun. Hasilnya? Tekor Rp 1,36 Triliun!!!

Apalagi dengan kondisi pandemi seperti ini maka perkiraan pemasukannya pun hampir dipastikan bakal lebih kecil, artinya, tekornya pun bakal lebih gede lagi

Maka dari itu, Politikus PSI ini pun ngotot juga untuk minta studi kelayakan yang baru, lantaran yang lama itu ngawur hitungannya.

“Buka studi kelayakannya ke publik, biar semua jelas, apakah Formula E layak diselenggarakan? Apakah Formula E layak dijadikan isu prioritas daerah? Ini prioritas Gubernur atau prioritas warga Jakarta,” tuntut Anggara Wicitra.

Lalu, apa sih pentingnya Formula-E ini buat Anies? Kok ngotot banget.

Baca Juga :  Konstruksi Militer-Sipil, Tatanan Pertahanan Negara

Mengenai ini sebetulnya pernah saya tayangkan di kanal youtube PERSPEKTIF Andre Vincent Wenas: https://youtu.be/_fv-ys5ne2o, yang berisi Analisa dari Josef Herman Wenas berjudul: “ANIES, FORMULA-E DAN GEN-Z”. Silahkan disimak lewat kanal youtube itu untuk mendalaminya lebih lanjut.

Ceritanya begini, Anies sedang menyasar partisipasi politik dari Gen-Z dengan konsep “Konektivitas Digital – Diskonektivitas Sosial.” Ini memang konsep kontradiksi yang menarik. Tapi apa maksudnya?

Di satu sisi, Gen-Z ini lebih terkoneksi secara digital dalam interaksi sosialnya (Konektivitas-Digital). Tetapi, bersamaan dengan itu, Gen-Z pada umumnya lebih terisolasi dari ruang politik partisan, jadi ada semacam diskoneksi sosial dalam dunia nyata (Diskonektivitas Sosial).

Begini selengkapnya kata Josef Herman Wenas,

“Aksi politik (dalam arti luas, bukan hanya mencoblos suara) yang dilakukan Gen Z umumnya suatu inisiatif individual, bukan organisasional. Misalnya, menyampaikan pendapat melalui vlog, menghimpun dana sosial lewat Kitabisa.com, mengajukan petisi via Change.org.

Komunitas mereka beranggotakan serangkaian “imagined communities.” Mereka tidak saling mengenal secara pribadi, tetapi terkoneksi lewat akun media sosial. Mereka bisa saja akrab di Free Fire, Mobile Legends atau PUBG, tetapi tidak di dunia nyata. Mereka bisa saja akrab di Chess.com tetapi hanya sebatas di platform maya itu saja.

Eskpresi politik mereka bentuknya “status” dan “komen” di media sosial, cenderung didasari bukan oleh bingkai ideologi atau ikatan kebangsaan, tetapi preferensi personal yang pragmatis dan kontemporer. Rerefensi mereka adalah para influencers (politisi, ustad, artis, SJW) yang sedang populer.”

Dan, ini latar belakangnya yang penting, berdasarkan hasil survey Prof. Burhanuddin Muhtadi Ph.D, lembaga Indikator Politik Indonesia (IPI) tentang “Presiden Pilihan” anak muda (maksudnya Gen-Z) terlihat bahwa Anies Baswedan ada pada posisi teratas di survey itu (15,2%), disusul Ganjar Pranowo (13,7%), dst. Survei IPI ini dilakukan antara 4-10 Maret 2021. Total sampel yang berhasil diwawancara 1200 responden, berusia 17-21 (Gen-Z).

Memang reaksi publik kala itu beragam juga, ada yang bereaksi marah, sinis, tatkala mengetahui Anies ada di posisi teratas di survey itu. Tapi ada juga yang girang tentunya.

Berikut analisis dari Josef Herman Wenas perihal relevansi event Formula-E bagi kepentingan politik Anies Baswedan:

“Bila direnungkan, reaksi emosional publik umumya masih terpolarisasi secara ideologis, pada dua “-isme” utama yang memiliki akar sejarah panjang ke suatu malam 22 Juni 1945 yang melahirkan Piagam Jakarta: Nasionalis vs Islam.

Di Pilpres 2019 lalu, juga di Pilpres 2014, panasnya persaingan ideologis ini terasa betul dalam bentuk-bentuknya yang populis sesuai perkembangan zaman, tentu saja.

Tetapi pemahaman tentang politik di Indonesia tidak bisa lagi melulu soal ideologis primordial, faktanya perilaku politik Gen Z penting menjadi faktor analisis.

Bagi Anies Baswedan, hasil survey IPI pasti memberikan justifikasi kalau strateginya sudah tepat. At the same time, juga menjelaskan kenapa dia ngotot untuk mempertahankan penyelenggaran event Formula E di Jakarta tahun 2022, so-called “Jakarta ePrix 2022.”

Memang betul, di 2022 Anies akan mengakhiri jabatannya sebagai Gubernur DKI, sedangkan Pilpres masih 2 tahun kemudian, 2024. Soalnya bukan itu sebetulnya, soalnya adalah kepada siapa Anies mengirimkan pesan melalui event “Jakarta ePrix 2022” dan “psychological repercussions” seperti apa dampaknya.

Dalam situs Formula-E ada artikel “Sign of the times – Formula E captures new, younger audience” tertanggal 18 April 2018. Intinya ada pada dua hal:

Pertama. “Today, the ABB FIA Formula E Championship has one of the fastest growing online audiences, with a 347 per cent rise in the number of 13-17-year-old fans (Generation Z) engaging with its online content since last season,” said Founder and CEO Alejandro Agag. “With a clear digital strategy and an always-on content approach, these impressive figures are a result of speaking the same language as our fans.”

Baca Juga :  Hino300 Series Catat Sejarah Light Duty Truck Pertama Diekspor Utuh

Kedua. In the age bracket of 18-24, the series experienced growth of 54 per cent since last season, with numbers like these showing a sustained increase in engagement, followers and video views when compared year-on-year.”

Lalu lanjutnya,

“Menjelang Piplres 2019, Kementerian Dalam Negeri mencatat ada 5.035.887 orang pemilih pemula. Data ini masuk dalam Daftar Penduduk Pemilih Potensial Pemilu (DP4), “Dalam DP4 terdapat pemilih pemula yang akan berusia 17 tahun tanggal 1 Januari 2018 sampai dengan 17 April 2019 sebanyak 5.035.887 jiwa,” menurut Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kemendagri, Zudan Arif Fakrulloh, Senin 17 September 2018.

Sekali lagi, itu hanya jumlah mereka yang akan berusia 17 tahun saat itu. Sedangkan data KPU mencatat bahwa pemilih pemula potensial, 17-22 tahun, mencapai 46 juta orang.

Itu di tahun 2019! Silahkan Anda hubungkan dengan “age bracket” (rentang usia) para pemirsa Formula E diatas, sambil membayangkan perkembangannya di tahun 2024.”

Belum selesai, Josef Herman Wenas masih melanjutkan,

“Saat menulis artikel ini saya cek Youtube dengan keyword “Pembukaan Asian Games 2018.” Tiga hasil pencarian teratas memiliki total views 15 juta, 10 juta dan 5,4 juta (ini yang khusus Presiden Jokowi beraksi di motor).

Dan yang mengejutkan, komentar viewer terakhir masih dari minggu lalu! Sekarang tahun berapa?

Maka kita sah untuk berfantasi… Oh, being in the limelight as Jokowi was in 2018, Anies may follow in his footsteps at the opening ceremony of “Jakarta ePrix 2022”. Sah dong, karena asset digital semacam ini di media sosial bisa bertahan bertahun-tahun lamanya, because people will keep revisiting it.

Yang Anies perlukan tinggal mendaur-ulang jejak-jejak digital itu melalui timses-nya melalui suatu post-truth politics. Hey dude, kita hidup di era jejak digital sekaligus era post-truth politics. Anda paham kan maksudnya?

“Jakarta ePrix 2022” itu modal penting untuk bermain dalam “Konektivitas Digital – Diskonektivitas Sosial” yang menjadi ciri partisipasi politik Gen Z. Sebagaimana halnya “Asian Games 2018” yang menaikkan citra Jokowi di kalangan Gen-Y (Millenials) pada Pilpres 2019.

Maka pensiun jadi Gubernur DKI Jakarta di 2022 bukanlah akhir segalanya bagi Anies. Penyelenggaran Formula E di tahun 2022 justru ideal dari sudut pandang ini. It’s just ending an office, but keeping the memory to stay is what counts.

Down payment sebesar GBP 53 juta, atau hampir Rp 1 triliun, justru jangan diminta balik. Di 2024, konstituen Gen-Z jumlahnya barangkali sudah mencapai sekitar 70 juta orang.

Maka merebut hati Gen Z jadi prioritas di Pilpres 2024. Apalagi di survey IPI Anies sudah menang. CEO Alejandro Agag benar: “With a clear digital strategy and an always-on content approach, these impressive figures are a result of speaking the same language as our fans.”

Wuihhh… panjang lebar ya.

Nah, semakin jelas ya, mengapa Anies kok terlihat ngotot sekali dengan penyelenggaraan Formula-E ini.

Maka sekarang tinggal tarik-tarikan kepentingan. Membela kepentingan rakyat banyak (dengan menginterpelasi), supaya segala pemborosan yang tidak perlu bisa disetop. Serta uang muka yang sudah disetor bisa dikembalikan.

Versus kepentingan ambisi politik Anies sendiri di tahun 2024 nanti yang dengan tega mengorbankan kebutuhan rakyat di tengah derita pandemi ini.

Bagaimana? Serius nih dengan rencana interpelasinya?

Loading...