Sekjen GPI:  Data MetroTV Yang Viral Itu Intimidatif dan Tendensius

Sekjen GPI:  Data MetroTV Yang Viral Itu Intimidatif dan Tendensius

HARIANNKRI.COM – Sekertaris Jendral Gerakan pemuda Islam (Sekjen GPI) Diko Nugraha menyayangkan tayangan gambar data MetroTV tentang hasil sementara quick count yang ditayangkan pada pukul 15.12 WIB. Tayangan tersebut saat ini menjadi viral dan membuat publik menjadi bingung dan cemas.

Rabu (17/4/2019) pukul 15.00 WIB MetroTV menayangkan acara “Live Event Pemilu serentak 2019”. Pada acara tersebut menayangkan diskusi mengenai prediksi pilpres yang disertai dengan penayangan hasil sementara quick count 6 lembaga survey. Pada pukul 15.12 WIB, gambar data MetroTV yang muncul adalah perhitungan keenam lembaga survey yang kesemuanya menunjukkan paslon 02 unggul atas 01. Sedangkan data dibawahnya, menunjukkan 01 unggul atas 02.

Tayangan gambar tersebut langsung menjadi viral di medsos. Berbagai spekulasi muncul dari publik atas tayangan tersebut. Munculnya berbagai spekulasi ini akhirnya membuat masyarakat di kehidupan nyata menjadi bingung atas tayangan tersebut.

Menaggapi dampak tayangan tersebut, Diko menganggap MetroTV telah melakukan tindakan intimidatif dan tendensius terhadap proses penghitungan suara secara quick count. Penayangan gambar data hasil sementara quick count tersebut merupakan tindakan membingungkan publik. Karena selaku media televisi harusnya mengutamakan fakta atau kebenaran. Terlepas itu ada kesalahan teknis atau server yang tidak terkontrol.

“Kami membaca pada penayangan gambar data MetroTV tersebut, ada sebuah tendensi. Nah tendensi ini kita mencurigai bahwa aktor-aktor bagian dari niat-niat jahat yang mengadu domba. Saya tidak menuduh salah satu pihak paslon, tapi ini ada pihak ketiga yang mendorong tingkat kecemasan publik. Ketika kecemasan publik ini meningkat, akan banyak yang berspekulasi. Spekulasi inilah yang akan ditunggangi oleh pemain politik. Dia main di ujung,” kata Diko di Menteng Raya 58 Jakarta Pusat, Rabu (17/4/2019),

Diko Melanjutkan, dugaan tendensi ini muncul karena MetroTV tidak segera melakukan klarifikasi apapun pada acara tersebut. Jika terjadi kesalahan penayangan data, seharusnya pada saat itu juga pembawa acara langsung mengklarifikasi. Sehingga publik yang menonton langsung bisa menerima bahwa hal tersebut adalah kesalahan teknis.

“Terlepas dari kesalahan teknis lho ya. Karena kesalahan teknis yang paling baik adalah di klarifikasi saja. Kan publik masih bisa memaklumi. Tapi kan sampai acara itu berakhir kan tidak ada klarifikasi yang menunjukkan bahwa ada kesalahan teknis. Akhirnya tayangan gambar data MetroTV tersebut membuat publik cemas. Dikhawatirkan ada pihak yang mendompleng, yang tidak menginginkan pemilu berlangsung damai,” jelas Diko.

Penggagas “Tauhid Yes Politik No” ini berharap pihak kepolisian segera melakukan langkah nyata. Pasalnya, tayangan tersebut menjadi viral dan membuat publik menjadi cemas. Pihak kepolisian seharusnya jangan hanya memantau perkembangan di lapangan. Karena bagaimanapun stasiun televisi dan media lainnya adalah alat penggerak massa dari jarak jauh. Harusnya aparatur pun melakukan antisipasi di tingkat teknis cyber untuk media elektronik.

“Jadi kalau ada kekisruhan, aparatur lah yang bertanggung jawab dan media itu sebagai media yang terkait. MetroTV harus mengklarifikasi. Kalau ini ada pembiaran, berarti MetroTV bagian dari pembuat kecemasan publik,” tutur Diko.

Langkah yang terbaik menurut Diko untuk mengatasi kecemasan publik ini menurut adalah segera melakukan penyidikan kepada pihak MetroTV. Kepolisian harus segera meminta penjelasan, karena kondisi pilpres yang panas ini akan mudah tersulut oleh kejadian sekecil apapun. Terlebih oleh tayangan sebuah media televisi nasional yang memfokuskan pada informasi berita.

“Apalagi sekarang kan ada UU ITE ya. Nah itu bisa jadi alasan polisi melakukan penyidikan ke pimred atau redaksi MetroTV. Karena jelas peristiwa ini menciptakan rasa cemas di publik. Kebohongan publik yang membikin kecemasan itu terkena pasal. Jadi masuknya di berita bohong. MetroTV itu kan media televisi khusus berita kan. Dia memberikan sebuah kebohongan kepada publik,” tutup Diko. (OSY)

Loading...