Dampak Corona dan Terbitnya Berbagai Kebijakan, Opini Tri Wahyudi Otto

Dampak Corona dan Terbitnya Berbagai Kebijakan, Opini Tri Wahyudi Otto
Tri Wahyudi Otto (Mahasiswa Hukum STIH IBLAM)

Dampak Corona dan Terbitnya Berbagai Kebijakan

Oleh: Tri Wahyudi Otto (Mahasiswa Hukum STIH IBLAM)

Kita ingat. Pada Desember 2019 lalu, sejumlah kasus sindrom pernafasan akut terjadi di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China. Para ilmuwan negeri tirai bambu mengidentifikasinya sebagai Corona Virus Disease 2019. Populer disebut COVID-19. Penemuan virus ini selanjutnya diinformasikan ke otoritas kesehatan di seluruh dunia. Sejak itu, Ibu Kota Provensi Hubei, bahkan daerah-daerah penyanggahnya turut menjadi mencekam. Kebijakan lockdown dilakukan Pertamakali dalam sejarah modern China menangani pandemi. Puluhan juta orang terkunci dalam kota. Dalam rumah tepatnya.

Dengan pengawasan sangat ketat. Hari ke hari penderitanya terus meningkat secara drastis. Puluhan orang. Ratusan orang. Angka-angka itu terus meningkat pesat. Bahkan mencapai puluhan ribu pasien. Orang-orang usia lanjut di atas 60 tahun yang memiliki rekam medis gangguan pernafasan kronis, diabetes, kangker, sangat berpotensial memiliki resiko paling parah. Bahkan berakibat kematian. Pada 29 Januari 2020, 106 orang meninggal dunia. Terakhir per-April 2020, kasus penderita corona di China, menembus angka 81.518 kasus. 3.305 orang meninggal dunia.

Tidak hanya di China. Penyebarannya terus berlanjut masif ke negara-negara lainnya di dunia. Hampir semua negara-negara di seluruh benua (Asia; Amerika; Eropa; dan Afrika) terjangkit. Hal ini telah dikonfirmasi di 201 negara. Tak terkecuali Indonesia. Kompas online (01/04/2020) merilis, angka di seluruh dunia mencapai 854.606 kasus. Sebaran angka terbesarnya berada pada sepuluh negara: Amerika (186.046 orang); Italia (105.792 orang); Spanyol (95.923 orang); China (81.518 orang);

Jerman (71.808 orang); Prancis (52.128 orang); Iran (44.605 orang): inggris (25.150 orang); Swiss (16.605 orang); dan Turki (13.531 orang). Dari jumlah seluruh kasus di dunia, 42.043 meninggal dunia. Kabar baiknya, 176.908 orang dinyatakan sembuh. Tetapi wabah ini belum usai. Angka terbaru (pikiran rakyat online-16/04) bahkan menembus 2 juta lebih kasus di seluruh dunia. Angka itu diikuti dengan angka kematian yang juga bertambah setiap harinya. Begitu juga yang sembuh.

Sampai hari ini pun dunia masih berpikir keras mencari cara membuat penangkalnya. Berbagai riset dilakukan para ahli. Angin harapan datang dari China dan Jerman. Kabarnya kedua negara tersebut sudah menemukan penangkalnya. Tinggal tunggu proses uji coba yang super ketat. Begitu memang standar perijinan edar obat untuk manusia. Tentu karena menyangkut nyawa seseorang.

Baca Juga :  GPI Berbagi Jadi langkah Awal Advokasi Anak Jalanan

 

Dampak Corona (COVID-19)

Berbagai kontraversi muncul akibat pandemi ini. Membuka babak baru konflik internasional China versus Amerika. Sebelumnya perang dagang kedua negara ini memang sedang memanas. Saling tuding terjadi. Juru bicara Kementrian Luar Negeri China Zhao Lijian menuding militer negara Paman Sam telah membawa virus corona ke Wuhan.

Spekulasi tuduhan itu didasari alibi partisipasi militer Amerika di ivent “World Games Militer” yang diikuti 100 negara di Kota Wuhan, China, pada Oktober 2019 lalu. Beberapa bulan sebelum ditemukannya virus mematikan ini. Tuduhan itu dilakukan di akun media sosial resminya.

Sebagai respon atas ucapan diskriminatif Presiden Amerika Donald Trump yang menyebut virus corona sebagai virus Wuhan, atau virus China. Tuduhan Jubir Kemenlu China yang tidak berdasar itu kembali direspon otoritas negara Amerika dengan memanggil Duta Besar Beijing ke Washington. Untuk dimintai keterangannya. Anggapan Amerika tuduhan itu keterlaluan.

Berbagai sumber lain bahkan telah menyebut nama seorang delegasi militer Amerika cabang balap sepeda bernama Maatje Benassi pada ivent militer dunia di Wuhan sebagai pesien 0 (nol) atau pasien pertama di dunia. Kementerian luar negeri Amerika membatah tegas. “China berusaha untuk menangkis kritik karena perannya dalam memulai pandemi global dan tidak memberi tahu dunia.

Menyebarkan teori konspirasi itu berbahaya dan konyol,” kata seorang pejabat Departemen Luar Negeri AS kepada ABC News (suara.com 26/03). Namun meski aksi tuding-menuding teori konspirasi itu tak menemukan titik kebenararan, Amerika tetap membuka kerjasama pada China untuk sama-sama menyelesaikan krisis wabah corona ini.

Tidak berhenti pada konflik saling tuding penyebab corona antar negara (China vs Amerika), wabah ini juga menyebabkan lesunya per-ekonomian global. Upaya negara-negara di dunia dalam menghentikan penyebaran dan menanggulangi krisis virus corona di negaranya masing-masing, berdampak pada berbagai sektor penting. Utamanya ekonomi. Pemberlakuan lockdown dan membatasi aktifitas sosial skala besar pada wilayah-wilayah di negara tertentu secara otomatis menghentikan pergerakan ekonominya.

Baca Juga :  Kemenkumham Adakan Apel Deklarasi Kinerja 2019

Segala aktifitas yang memiliki potensi penyebaran virus, seperti industri dalam arti luas dihentikan. Bahkan kegiatan keagamaan di tempat-tempat peribadatan sekalipun juga turut dihentikan sementara. Pemerintah Arab Saudi menutup Kota Suci Mekkah. Vatikan menutup semua gereja di Roma.

Otoritas Tibet menutup kuil-kuil. Dan seterusnya diikuti kebijakan yang sama agama-agama lainnya. Pun tidak sedikit kebijakan penutupan rumah ibadah di berbagai negara memiliki dampak sosial. Terdapat sebagian masyarakat menolaknya. Umumnya didasari argumentasi teologis. Hanya saja hal itu dapat diatasi. Tetapi tidak untuk dampak kebijakan lockdown seperti yang terjadi di India baru-baru ini.

Dikutip dari berbagai sumber, keputusan lockdown selama 21 hari Perdana Menteri India Narendra Modi berakibat pada berhentinya segala aktifitas bisnis dengan tiba-tiba. Dampaknya ialah nasib jutaan buruh yang tersebar di kota-kota India. Belasan orang tewas akibat serangkaian kekacauan. Akibat kebijakan pemerintahnya, ratusan ribu buruh migran menganggur dan menjadi tunawisma.

Sebagian besar lainnya tinggal di mana tempatnya bekerja. Dapur umum New Delhi yang menjadi Ibu Kota India kuwalahan memberi makan. Sebagian besar lainnya membawa keluarganya dengan berjalan kaki untuk pulang. Upaya itu dihadang aparat keamanan. Mereka kelaparan.

Hal ini semakin diperparah lagi dengan adanya perpanjangan masa lockdown hingga 3 Mei mendatang. Buruh yang menganggur dan tak bisa kembali ke kampung halamannya akhirnya melakukan unjuk rasa. Dan di respon dengan perlakuan represif aparat keamanannya. Bentrokan tak terhindarkan.

Itu sedikit gambaran krisis sosial-ekonomi sebagai dampak dari upaya pemeritah India menghentikan penyebaran corona di negaranya. Yang menghawatirkannya lagi World Economic Forum (WEF) memprediksi akan banyak negara mengalami resesi ekonomi. Managing Director WEF Saadia Zahidi menyebut,

“IMF memproyeksikan bahwa 170 negara akan mengalami pertumbuhan pendapatan per-kapita negatif tahun ini,” tegas dia (liputan6.com-12/04).

Setuasi Indonesia dan Kebijakannya Dalam Menghadapi COVID-19

Loading...