Menggunakan Sentimen Mayoritas dan Minoritas Dalam Membela Israel

Menggunakan Sentimen Mayoritas dan Minoritas Dalam Membela Israel
Bendera Palestina dan Israel

Menggunakan Sentimen Mayoritas dan Minoritas Dalam Membela Israel, Sentilan Untuk Para BuzzeRp. Ditulis oleh: Malika Dwi Ana, Pengamat Sosial Politik.

Jelas-jelas konstitusi dasar di Pembukaan UUD 1945 berbunyi; “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.” Harusnya demi membaca ini paham konteks dalam menyikapi Palestina, yang terjadi di sana bukanlah konflik, tetapi kolonialisme alias penjajahan Israel atas Palestina.

Di sini, para buzzeRp sibuk mengibarkan sentimen mayoritas atau minoritas. Sentimen mayoritas minoritas ini dipicu pada saat yang sama dengan radikal radikul. Fear mongering yang pada akhirnya menghasilkan rezim yang dibalut korupsi dan kemunduran demokrasi. Sebegini suramnya…

Bahwa kesetaraan masih merupakan mimpi di negara ini mari kita akui. Tapi ya mesti diingat, ketidaksetaraan itu pusatnya ada pada kekuasaan dan ketidakadilan sumberdaya. Dan di sini tidak punya kaitan dengan persoalan mayoritas minoritas.

Tidak perlulah bakar-bakar soal mayoritas minoritas kalau faktanya perekonomian Indonesia ini dikuasai oleh mereka yang disebut minoritas. Lalu disebut minoritasnya dimana? Wong dengan duwitnya, mereka bisa bikin atau beli apa aja…bisa menguasai ekonomi, politik juga hukum. Powerful lah pokoknya, mengendalikan siapa yang kudu jadi presiden, KPK, Panglima, Kapolri dan seterusnya.

Sebangun dengan logika Israel itu minoritas di Timur Tengah. Tapi dengan kekuatannya yang didukung oleh Amerika ya jadi pembully nomer satu akhirnya. “The last paradox is that the tale of Palestine from the beginning until today is a simple story of colonialism and dispossession, yet the world treats it as a multifaceted and complex story—hard to understand and even harder to solve.” (Noam Chomsky). Intinya soal kolonialisme, pendudukan Israel atas Palestina.

Baca Juga :  Disinformasi Oleh Polres Salatiga Dalam Kasus Limbah B3 RSUD Kota Salatiga

Jadi ya aneh saja orang yang menghubungkan kekejian Israel dengan mayoritas-minoritas di sini. Pekoknya kok kebangetan!

Jika orang Israel membela negaranya, kita bisa memaklumi. Tapi kalau ada orang Indonesia yang membela Israel, yang harus kita tanyakan adalah agendanya apa? Apa pentingnya membawa-bawa narasi yang menyudutkan Hamas atau negara-negara Timur Tengah?

Setiap orang bisa ambil sisinya masing-masing terhadap persoalan Palestina. Ada yang bicara dari sisi pelanggaran hukum internasional, injustice, kemanusiaan bahkan persaudaraan Islam atau ukhuwah Islamiah. Ini isu-isu yang kita bisa relasikan. Tapi kalau bela Israel?

Apakah soal self defense? Yang membunuh 10x lipat di sana? Apa yang harus dibela di sini? Ini benar-benar mencederai prinsip-prinsip kemanusian yang adil dan beradab. Serta mendukung penjajahan suatu bangsa terhadap bangsa lainnya. Bisa dibilang bertentangan dengan konstitusi dasar negara Indonesia.

Apakah kalian sedang mencari analogi terhadap apa yang dilakukan tentara kita di Papua? Apakah misalkan berfikir ke depan untuk menduduki Singapura, maka lalu boleh bilang self defense?

Baca Juga :  Di Balik Babi Ngepet. Opini Malika Dwi Ana

Isu palestina ini sudah puluhan tahun. Bulan ini tepatnya sudah 73 tahun pendudukan Israel atas Palestina. Ya it’s the 73rd anniversary of Israel state foundation with Palestinian people expelled from their land. Lucunya, baru pada rezim ini bermunculan suara-suara yang membela Israel secara cukup sistematis. Dari buzzer-buzzer yang sibuk ngledekin orang yang ngumpulin dana untuk Palestina, atau nyinyirin yang mau pergi bela Palestina sampai Islamophobia yang terang-terangan pengen Palestina musnah.

Saya mah kenal modus operandinya para buzzeRp ini.

Mereka kepengen ribut doang. Kayak preman yang sengaja ngacak-ngacak pasar supaya diangkat jadi security. Harapan mereka sih jelas; agar dapurnya terus bisa ngebul.

Opininya mudah ditebak, begitu templatik. Masih soal radikal radikul. Diwaktu lain “Palestina” diganti “HTI”, lalu lain waktu lagi diganti “FPI”, lain waktu mau diganti apa lagi entahlah. Sampai di sini kelihatan banget pikirannya mandek dan tumpul. Ya begitu-begitu saja, njelehi tenan wis! Kalau kelompok Islamophobic mah ngga perlu ditanya lagi. Yang lain? Mbuh….

Malaysia bisa kompak bela Flag of Palestinian Territories karena di sana tidak ada buzzerp, sedang di sini banyak banget penghianat makanya penjajah pada betah.

Dana sudah cair, mereka dikontrak sosialisasi pentingnya Impor TKA Flag of Israel melalui calling visa, jangan heran jika mereka getol bela Flag of Israel. Makanya LAWAN !!

Loading...